Rating : ♥♥♥♥
Official Site : N.D. Wilson
Karena kedua orangtuanya yang berprofesi sebagai penulis perjalanan sedang disandera selagi bersepeda di Colombia, dan masih belum ditebus hingga kini, maka Henry York yang berusia dua belas tahun pindah ke kediaman Paman Frank, Bibi Dotty dan ketiga sepupunya (Anastasia, Henrietta dan Penelope) di rumah pertanian tua di Henry, Kansas.
Henry tak keberatan sama sekali, walaupun ia harus terjebak dalam kamar yang sempit di loteng. Bahkan dia lumayan senang tinggal di rumah barunya ini, karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Henry diijinkan untuk bermain baseball tanpa helm, duduk di belakang truk, dan memiliki pisau lipat sendiri (yang dibelikan Paman Frank untuknya).
Tapi ketika Henry membaringkan tubuhnya di tempat tidur, dia mulai mendengar suara benturan yang datang dari dinding luar kamarnya. Plester dinding mulai berjatuhan ke kepalanya dan saat ia mendongak ke atas, terlihat olehnya dua kenop kecil yang mencuat keluar dari plester dinding. Masih terdengar suara benturan dan garukan lirih, bahkan Henry agak ragu apakah kenop itu memang tadinya benar-benar bergerak?
Penasaran, Henry segera mencabut potongan plester dari dinding dan menemukan sebuah pintu logam persegi yang lebarnya tidak lebih dari dua puluh sentimeter, dengan dua kenop kuningan yang masing-masing dikelilingi simbol huruf dan angka Romawi, dan sebuah panah besar mencuat dari tengah kedua kenop.
Tapi usaha Henry sia-sia karena saat Henrietta membersihkan kenop lebih lanjut, mereka menemukan bahwa tidak hanya sebuah panah besar dari masing-masing kenop, tapi masih ada tiga panah kecil lainnya, membagi kenop menjadi empat bagian. Dan dengan demikian, pintu lemari itu menjadi mustahil dibuka, karena kombinasi yang dibutuhkan akan tak terkira lagi jumlahnya.
Henrietta memutuskan untuk tidur. Tapi Henry melanjutkan usahanya mencongkel plester dindingnya dengan pisau lipatnya dan berhasil menemukan setidaknya 35 lemari dalam berbagai bentuk, warna dan ukuran yang berbeda-beda. Henry yakin masih ada lagi, tapi pisaunya telah tumpul dan ia mulai membersihkan kamarnya dari plester dan menggunakan poster untuk menutupi semua lemari itu supaya tidak ketahuan oleh yang lain.
Henry dan Henrietta benar-benar penasaran untuk apa sebenarnya semua lemari ini? Mereka mulai memeriksa semua lemari, mencoba membukanya dan akhirnya menemukan sebuah pintu kaca kecil yang dilumuri cat hitam.
Saat Henry berhasil mengelupas cat hitamnya, Henry menemukan amplop surat. Tampaknya lemari kecil ini semacam kotak surat, dan pintu kotak posnya terkunci. Lalu tiba-tiba pintu lemari di atas kotak pos mulai terbuka sendiri dan mereka mendengar angin kencang bertiup diikuti suara gemuruh pepohonan dan hujan mulai turun di sisi seberang lemari, padahal di luar rumah mereka sedang tidak hujan. Henry juga menemukan sebuah kunci dalam lemari ini.
Saat Henry berhasil mengelupas cat hitamnya, Henry menemukan amplop surat. Tampaknya lemari kecil ini semacam kotak surat, dan pintu kotak posnya terkunci. Lalu tiba-tiba pintu lemari di atas kotak pos mulai terbuka sendiri dan mereka mendengar angin kencang bertiup diikuti suara gemuruh pepohonan dan hujan mulai turun di sisi seberang lemari, padahal di luar rumah mereka sedang tidak hujan. Henry juga menemukan sebuah kunci dalam lemari ini.
Henrietta semakin bersemangat memikirkan hal-hal yang bisa jadi ada di balik lemari ini, tapi Henry tidak sependapat. Sekali pun ia penasaran, rasa takutnya mendorongnya untuk tidak mengusik lemari ini lebih jauh lagi. Tapi rasa ingin tahunya mengalahkan rasa takutnya saat ini.
Henry dan Henrietta kembali melepas seluruh plester dinding dan akhirnya berhasil mengungkap sisa lemari yang ada. Total berjumlah 99 lemari. Dan sejauh ini baru dua pintu yang berhasil dibuka mereka. Kelelahan, keduanya segera beranjak tidur setelah membuang plester dari kamar.
Henry dan Henrietta kembali melepas seluruh plester dinding dan akhirnya berhasil mengungkap sisa lemari yang ada. Total berjumlah 99 lemari. Dan sejauh ini baru dua pintu yang berhasil dibuka mereka. Kelelahan, keduanya segera beranjak tidur setelah membuang plester dari kamar.
Lalu Henry yang terjaga saat melihat ada cahaya dalam kamarnya yang gelap menemukan kalau cahaya itu berasal dari kotak pos, dan dengan kunci yang ia temukan, ia berhasil membuka pintu kotak pos. Di balik pintu kotak pos, terlihat kaki bercelana dan suara seseorang sedang bersiul. Layaknya anak laki-laki lainnya yang suka usil dan penasaran, Henry juga melakukan hal yang akan membuat jantung pembaca ikut berdebar (bagian ini tidak akan kuceritakan karena akan merusak keasyikan Anda saat membacanya :p).
Henry hampir lupa bernapas, tapi ia tidak lupa menarik keluar kartu pos dan amplop panjang dari kotak surat. Henry mulai melakukan percobaan pada kedua lemari yang sudah terbuka sejauh ini. Tampaknya, pintu-pintu lemari itu adalah penghubung ke dunia lain, dan setiap pintu sepertinya mengarah ke lokasi dan waktu yang berbeda.
Tak seperti Henrietta yang sudah tak sabar untuk menjelajahi dan memeriksa semua lemari itu, Henry merasa takut dengan keanehan dan kemisteriusan lemari-lemari penemuannya ini, dia ragu kalau sesuatu yang disembunyikan sedemikian rupa adalah hal yang menyenangkan.
Amplop dan kartu pos panjang itu juga berisi peringatan yang ditujukan oleh penghuni dunia seberang lemari baginya karena telah mengusik lemari-lemari yang tersembunyi itu. Visi-visi aneh juga mulai sering hadir dalam mimpi Henry.
Amplop dan kartu pos panjang itu juga berisi peringatan yang ditujukan oleh penghuni dunia seberang lemari baginya karena telah mengusik lemari-lemari yang tersembunyi itu. Visi-visi aneh juga mulai sering hadir dalam mimpi Henry.
Tak hanya itu, masih ada misteri kamar kakek mereka yang tak pernah bisa dibuka siapapun sejak kakek mereka meninggal dua tahun yang lalu karena kuncinya hilang. Paman Frank sudah mengerahkan segala upaya untuk menghancurkan pintu kamar kakek, tapi pintunya masih tetap tak bergeming sedikitpun.
Sampai kemudian Henrietta membuka pintu lemari kecil berwarna hitam dan tiba-tiba saja Henry merasakan firasat buruk yang sangat kuat. Entah kenapa, ia yakin pintu itu seharusnya tidak boleh dibuka sama sekali. Di dalam lemari hitam dari kayu eboni itu, Henrietta menemukan sebuah kunci yang mirip dengan kunci kamar kakek.
Bersama-sama mereka mengetes kunci kamar itu dan berhasil membuka kamar kakek. Ada yang aneh di kamar kakek, tidak ada debu dan ada bunga hidup dalam vas. Seakan-akan masih ada orang yang tinggal dalam kamar itu. Mereka menemukan jurnal kakek berisi sketsa 98 lemari berikut keterangan nomor lemari, nama lemari, nama tempat dan istilah-istilah aneh. Tapi kenapa hanya 98 lemari?
Dari jurnal itu, Henry mengetahui bahwa lemari hitam kayu eboni itu hanya diberi keterangan Endor pada nama dunianya dan nomor 8. Tidak ada keterangan lain, dan itu tidak begitu menyenangkan bagi Henry. Dia mulai meminta Henrietta untuk tidak mengusik lemari-lemari itu lagi, terutama tampaknya kakek mereka berusaha menyembunyikan lemari-lemari itu agar tidak ditemukan, lagipula mereka sudah mendapat dua surat yang isinya tidak menyenangkan sama sekali.
Henry mengusulkan untuk memberikan kunci kamar kakek pada Paman Frank dan membeberkan semua penemuan ini padanya. Henrietta tidak setuju dan mereka mulai bertengkar. Akhirnya mereka sepakat untuk membiarkan Henrietta melongok ke dalam ketiga lemari yang terbuka untuk terakhir kalinya sebelum menceritakan semuanya pada Paman Frank.
Masalah mulai timbul saat tangan Henrietta ditarik oleh makhluk di seberang pintu lemari Endor. Henry berhasil menolongnya namun terluka dalam usahanya. Naas bagi Henry, tanpa diketahui olehnya ternyata bau darahnya telah membangunkan Nimiane, ratu penyihir yang terkurung dalam kegelapan.
Sementara itu, Henry marah besar karena sepertinya Henrietta tidak sedikitpun merasa takut pada apa yang telah dialaminya barusan. Henrietta tidak kapok, sekalipun agak merasa bersalah.
Tak lama, lewat jurnal peninggalan kakek mereka, Henrietta berhasil menemukan cara membuka dan menggunakan pintu-pintu lemari untuk menjelajah ke dunia di balik lemari-lemari yang kecil itu.
Tak lama, lewat jurnal peninggalan kakek mereka, Henrietta berhasil menemukan cara membuka dan menggunakan pintu-pintu lemari untuk menjelajah ke dunia di balik lemari-lemari yang kecil itu.
Malamnya, mereka mulai kembali memeriksa lemari-lemari itu. Ada sebagian pintu yang bisa dibuka tanpa kunci dan ada yang tidak. Sebelum Henrietta menjelaskan penemuannya lebih lanjut, terdengar suara tumbukan dari kamar kakek. Henrietta yang menduga ayahnya bangun segera pergi ke kamar kakek untuk menutup pintu. Namun saat suara tumbukan kembali terdengar dan Henrietta tak kunjung muncul, Henry yakin kalau ada yang tidak beres.
Saat ia melesat ke kamar kakek, Henrietta telah lenyap. Henry hanya menemukan sebelah sepatu dan sebuah kacamata di lantai dekat lemari kecil yang terbuka pintunya, jelas kedua barang itu bukan milik Henrietta.
Henry segera masuk ke lemari kecil itu, namun lemari itu tidak mengarah ke mana-mana. Ia segera mempelajari jurnal kakek dengan tergesa-gesa dan berhasil menemukan cara kerja kenop kompas yang ada pada lemari pertama yang ia temukan.
Henry segera masuk ke lemari kecil itu, namun lemari itu tidak mengarah ke mana-mana. Ia segera mempelajari jurnal kakek dengan tergesa-gesa dan berhasil menemukan cara kerja kenop kompas yang ada pada lemari pertama yang ia temukan.
Masalahnya, ada begitu banyak tempat, ke manakah Henrietta dibawa pergi? Bisa jadi sebagian besar tempat di balik lemari itu bukan dunia yang menyenangkan. Bisakah Henry menemukan Henrietta? Apa yang akan dilakukan Henry saat bertemu dengan Nimiane? Apa sebenarnya yang diinginkan Nimiane dari Henry? Dan dikurung di manakah Nimiane sebenarnya?
Pengarang membangun latar belakang kisah dan karakter tokoh-tokohnya secara detil dan perlahan-lahan sehingga membuat alur ceritanya yang lambat pada awalnya. Tapi gaya penceritaannya akan membuat pembaca tidak akan merasa bosan sama sekali dan cukup penasaran untuk menyelesaikan bukunya dalam satu kali duduk. Seperti pepatah semuanya akan indah pada waktunya. Plot ceritanya yg lambat juga membuat kita mengenal lebih dalam setiap karakter dalam kisah ini.
Jika Anda bisa mengesampingkan alur yang lambat pada permulaan cerita, maka Anda dijamin tidak akan menyesal telah membaca buku ini. Ide menemukan 99 lemari di dinding kamar saja sudah membuat kita membayangkan petualangan macam apa yang akan dialami kedua tokoh utama nantinya.
Dan setelah selesai membaca buku ini, aku mendapati diriku sangat penasaran dengan petualangan apa lagi yang akan dilakukan Henry dan Henrietta, apakah mereka akan berkelana ke dunia-dunia di balik lemari lainnya, seperti apakah dunia-dunia tersebut, apakah dunia lain atau sebenarnya itu adalah dunia kita tapi dalam rentang waktu yang berbeda? Semua pertanyaan tak terjawab itu membuatku tak sabar menanti buku keduanya dirilis di Indonesia.
Satu hal yang menyenangkan dalam membaca kisah yang berbau sihir yaitu kita diajak berkenalan dengan kemungkinan-kemungkinan dan imajinasi-imajinasi yang tak pernah terpikirkan kita sama sekali. Dan Wilson jelas telah merangkai sebuah kisah fantastis lain, sebuah dunia lain yang penuh dengan probabilitas.
Walaupun begitu, ada satu hal yang cukup menggangguku sedari awal cerita. Tampaknya Henry tidak begitu merasa kehilangan atau sedih memikirkan nasib orangtuanya yang sedang disandera. Bahkan ia lebih memilih untuk selamanya tinggal di rumah pamannya.
Dari sedikit cerita yang diutarakan pamannya, tampaknya kedua orangtuanya sangat menyayangi dan melindunginya, lalu kenapa anak itu sama sekali tidak merasa sedih sedikitpun untuk orangtuanya? Aku benar-benar tidak paham.
Dari sedikit cerita yang diutarakan pamannya, tampaknya kedua orangtuanya sangat menyayangi dan melindunginya, lalu kenapa anak itu sama sekali tidak merasa sedih sedikitpun untuk orangtuanya? Aku benar-benar tidak paham.



100 Cupboards #1 : 100 Cupboards
4 Stars
























Hai, salam kenal!
ReplyDeleteWah aku jd tahu buku ini dari blogmu. Sayangnya, terjemahannya yg diterbitkan Dastan, covernya gak sekeren aslinya ya?
Salam kenal juga, Fanda. ^^
ReplyDeleteMenurutku cover versi Dastan juga oke, cuma memang tidak begitu pas antara gbr dgn judul bukunya. Krn yg versi Dastan cuma 1 lemari aja.