Age of the Five #1 : Priestess of the White

Age of the Five #1 : Priestess of the White - Indonesia EditionBookmark and Share
Author : Trudi Canavan

Rating : ♥♥♥♥♥

Official Site : Trudi Canavan

Age of the Five ber-setting pada zaman di mana lima dewa berkuasa dan memerintah dunia melalui manusia pilihan mereka, yang disebut White. Karena para dewa yang terbuat dari zat sihir tidak dapat memengaruhi dunia secara fisik, mereka harus bekerja melalui tangan manusia. Walaupun dewa bisa mengambil alih tubuh para pendeta White, mereka memilih tidak melakukannya.

Para pendeta White yang menjadi penguasa Ithania Utara sekaligus pemimpin para pengikut paham Circlian ini dianugerahi usia panjang dan kekuatan sihir yang akan digunakan mereka untuk menjaga perdamaian di dunia.

Lalu kenapa hanya lima dewa? Karena hanya lima dewa yang tersisa dari perang antar dewa yang terjadi dahulu kala. Lima dewa ini hanya sesekali hadir di hadapan manusia saat hendak menyampaikan pesan penting pada manusia atau pun perintah yang harus dijalankan oleh para White. Misalnya saat pemilihan anggota White, dewa mengambil wujud manusia dan muncul di hadapan para pengikut Circlian.

Tentu saja, tidak semua penduduk Ithania adalah para pengikut Circlian yang meyembah kelima dewa tersebut. Para pengikut Circlian membenci Dreamweaver, karena Dreamweaver adalah para penyembuh yang ateis dan tidak mempercayai dewa mereka. Sementara Dreamweaver membenci para dewa yang membunuh pemimpin mereka, Mirar.

Mirar sendiri tidak bisa dibilang sebagai orang suci dalam hal ini. Walaupun ia terkenal murah hati dan hebat dalam hal penyembuhan serta memiliki kepribadian yang hangat, Mirar juga memiliki reputasi buruk karena memiliki kebiasaan buruk seperti sering minum, memakai obat penenang dan menggoda wanita.

Tapi bukan karena sifat buruk Mirar sehingga dewa memutuskan untuk membunuhnya. Mirar telah menyebarkan kebohongan dan mengirimkan mimpi-mimpi kepada orang-orang Ithania (mengirimkan mimpi adalah keahlian seorang Dreamweaver) untuk membuat mereka berpaling dari dewa.

Namun orang-orang justru memohon pada para dewa untuk membebaskan mereka dari manipulasi yang dilakukan Mirar. Hanya Mirar yang dihukum dewa atas tindakannya, namun para pengikut Circlian yang fanatik ikut turun tangan membunuh para Dreamweaver lainnya. Sehingga kebencian di antara kedua belah pihak semakin berkobar, walaupun para pengikut Circlian yang bersalah itu telah dihukum oleh White.

Pada prolog buku ini, dikisahkan bahwa pada saat itu hanya ada empat White yang telah terpilih sejak awal, mewakili empat dewa. Namun, tokoh utama kita, wanita berusia 26 tahun bernama Auraya dipilih langsung oleh dewa menjadi pendeta White kelima, anggota White terakhir. Auraya dianugerahi usia yang panjang, kemampuan sihir yang sangat kuat, dan kemampuan pembacaan pikiran oleh dewa.

Sebagai yang Terpilih, Auraya siap berkomitmen penuh dan melaksanakan kewajibannya dengan sepenuh hati. Namun ia merasa kalut karena telah melanggar hukum dan menggunakan layanan penyembuhan seorang Dreamweaver.
Auraya sadar kalau para dewa maha tahu, lantas kenapa malah Auraya yang dipilih para dewa sebagai wakil mereka?

Walaupun begitu, Auraya merasa bahwa tindakannya sama sekali tidak salah. Dreamweaver tidak melakukan hal apa pun yang membuat mereka pantas dibenci atau tidak dipercaya. Dreamweaver adalah penyembuh dan Dreamweaver yang ia kenal, mantan gurunya yang bernama Leiard adalah pria yang baik yang saat ini sedang merawat ibu Auraya yang sakit.

Auraya bukannya berhutang budi pada Leiard sehingga berpikiran begitu. Sudah sedari dulu ia berpikir adalah tindakan bodoh jika membuat hukum yang melarang menerima penyembuhan dari Dreamweaver. Bukankah tanaman obat yang dipetik dan dibuat oleh Dreamweaver asalnya sama, dan ditujukan untuk kepentingan penyembuhan? Auraya hanya berpikir bahwa ilmu pengobatan yang berguna akan ikut hilang jika Dreamweaver musnah.

Apakah para dewa berubah pikiran mengenai Dreamweaver? Apakah dengan memilih Auraya yang bersimpati pada Dreamweaver akan membuat para pengikut Circlian ikut menerima Dreamweaver? Yang pasti, untuk saat ini Auraya yakin kalau para dewa tidak setuju dengan tindakannya, maka para dewa akan memberitahukannya.

Sementara ini masih banyak hal lain yang harus dikuatirkannya. Masalah-masalah aliansi perdamaian, pertemuan-pertemuan diplomatik dan rapat dengan para raja, duta besar dan petinggi lainnya dari Hania, Somrey, Dunway, Toren, Sennon dan lain-lain.
Selain itu, ada masalah penganut kultus lain di Sennon, yaitu Pentadrian. Sama seperti Circlian, Pentadrian juga menyembah lima dewa, bedanya lima dewa itu telah mati. Pentadrian mengklaim bahwa dewa merekalah yang nyata, hidup dan benar, bukannya dewa para pengikut Circlian.

Sementara para dewa telah memerintahkan para White untuk mempersatukan seluruh Ithania Utara melalui persekutuan yang damai, bukan melalui perang atau penaklukan. Dewa menginginkan semua wilayah merundingkan kesepakatan persekutuan dengan White.

Namun telah terdengar kabar berita bahwa Sennon dan Pentadrian sedang bersiap-siap melakukan penyerangan ke Ithania Utara. Untuk itu, Auraya harus mensukseskan negosiasi persekutuan dengan dua sekutu kuat yang akan membantu mereka dalam perang melawan para penyihir Pentadrian yang kuat, jika memang perang takkan terelakkan lagi.

Tak hanya itu, hubungan guru dan muridnya dengan Dreamweaver Leiard entah sejak kapan telah berubah menjadi hubungan pria dan wanita saat mereka bertemu kembali setelah sepuluh tahun tidak bersua.
Auraya dan Leiard berusaha merahasiakan hubungan terlarang mereka dari para White dan Dreamweaver lainnya. Auraya dengan jujur dan berani menerima apa kata hatinya, walaupun ia tahu apa konsekuensi dari tindakannya menentang dewa dan melukai perasaan para White lainnya.

Sayangnya, sebagian isi kepala Leiard telah ditumpangi Mirar, berkat ingatan tautan yang dilakukan para Dreamweaver setiap kali mereka saling bertukar ingatan untuk menyamakan ingatan masa lalu dan konsep pikiran atau berbagi pengetahuan. Ingatan tautan Mirar yang dimiliki Leiard semakin lama semakin kuat sehingga mulai mewujud dalam benaknya sebagai kepribadian lain, dan mulai mengambil alih tubuh dan benak Leiard.

Di akhir cerita, pembaca menjadi bertanya-tanya, apakah Leiard sesungguhnya adalah Mirar? Tapi bukankah tubuh Mirar sudah hancur saat dibunuh White? Perkembangan baru ini membuat pembaca semakin penasaran saja dengan buku keduanya.
Lalu bagaimana pendapat dan reaksi para White dan para pengikut Circlian serta Dreamweaver lainnya saat mereka mengetahui anggota White menjalin cinta dengan Dreamweaver? Apa hasil akhir dari perang antara Circlian dan Pentadrian?

Age of the Five #1 : Priestess of the White - UK Edition Age of the Five #1 : Priestess of the White Age of the Five #1 : Priestess of the White - USA Edition

Keseluruhan konsep para dewa di dunia ini sangat menarik. Karena dewa yang diusung Canavan dalam kisah ini mengambil model dewa Yunani Kuno atau dewa Romawi, bahkan ada ateis di dalamnya. Buku ini benar-benar mengajak pembaca untuk berpikir sejenak mengenai agama dan kepercayaan yang kita anut, apa yang harus kita anut, mengapa kita memilih untuk menganut agama itu.

Konsep siapa yang baik atau jahat digunakan pengarang sepanjang kisah ini, dan aku sangat menikmatinya. Para penyihir Pentadrian percaya kalau para pengikut Circlian telah menyembah dewa yang salah, begitu juga sebaliknya. Kedua belah pihak merasa merekalah yang paling benar. Dewa para pengikut Circlian memang nyata dan ada, namun jangan lupa kalau tidak semua dewa itu baik. Sementara, dewa para pengikut Pentadrian, tidak ada yang tahu apakah memang sudah mati atau masih hidup? Dan apakah dewa mereka memang jahat seperti dugaan para pengikut Circlian? Masih belum tahu.

Sementara Dreamweaver menolak untuk percaya pada dewa yang mana pun. Perang ini hanya milik Circlian dan Pentadrian, dan Dreamweaver sebagai penyembuh tetap menjalankan tugas mereka sebagai penyembuh di medan perang, tidak peduli kawan atau lawan yang terluka, mereka tidak pandang bulu dan memberikan layanan penyembuhan pada yang membutuhkan.

Lalu ada satu hal yang sedikit menggangguku. Leiard sebagai Dreamweaver mengutarakan pandangannya bahwa ia memilih menjadi ateis karena dewa yang memiliki kekuasaan bukan berarti berhak mengatur pikiran dan kehidupan orang lain atau mengatur siapa yang harus dibunuh. Bicara soal tidak berhak mengatur pikiran orang lain, bukankah Mirar telah mencoba memanipulasi pikiran orang lewat mimpi?

Yang paling menarik sekaligus tidak disukai sebagian orang dari kisah karangan Canavan, kisah dituturkan berdasarkan sudut pandang hampir SEMUA tokoh cerita. Kutekankan dalam huruf besar karena memang jumlahnya sangat banyak. Kerugian menggunakan point of view (POV) dari banyak tokoh adalah merusak keasyikan pembaca yang lebih menikmati kisah dituturkan dari satu POV saja. Namun keuntungan banyak POV adalah kita bisa lebih memahami karakter setiap tokoh dengan baik, mendengar pola pikir para tokoh itu, mengetahui kisah tokoh lain, bukannya tokoh utama saja. Dan yang paling jelas tentunya ialah membaca buku ini akan terasa seperti menonton film.

Jadi bagi yang tidak menyukai banyak POV dan tidak suka perpindahan adegan dengan cepat tapi tertarik untuk membaca buku ini, kusarankan untuk menyabarkan diri saja. Karena pada akhirnya semua potongan adegan itu akan bertemu di bagian klimaks, saat semua tokoh bertemu dalam perang akbar yang melibatkan manusia dan dewa. Di saat itu, kita akan sudah terbiasa dan malah jadi ingin tahu bagaimana nasib para tokoh lainnya paska perang.

Bagi penggemar fantasi fiksi sihir seharusnya takkan asing dengan nama pengarang ini. Aku sudah jatuh cinta pada karya Trudi Canavan sejak pertama kali membaca trilogi Black Magician bertahun-tahun yang lalu. Black Magician adalah satu buku favoritku yang selalu kubaca berulang-ulang selain buku Harry Potter dan Eragon. Maka, aku pun tak perlu lagi berpikir panjang saat melihat buku ini dirilis. Cukup dengan melihat nama Trudi Canavan saja, buku ini langsung masuk keranjang belanja dan digarap habis pada hari itu juga, dalam satu kali duduk.

Dan memang terbukti buku ini sangat memuaskan dan sangat unik, berbeda dengan buku fantasi sihir lain yang temanya seputar itu-itu saja. Dari semua buku karangannya yang telah diterbitkan di Indonesia saat ini, sudah ada enam bukunya yang diterbitkan saat ini.
Tiga buku dari trilogi Black Magician, satu buku kisah lepas yang judulnya The Magician’s Apprentice dan dua buku dari trilogi Age of the Five. Aku berharap Penerbit Mizan akan segera menerbitkan trilogi Traitor Spy, lanjutan dari kisah trilogi Black Magician.

0 Response(s):

Post a Comment