Children of the Red King #1 : Midnight for Charlie Bone

Children of the Red King #1 : Midnight for Charlie Bone - Indonesia EditionBookmark and Share
Author : Jenny Nimmo

Rating : ♥♥♥

Official Site : Jenny Nimmo

Kita semua punya bakat tersembunyi. Charlie Bone juga punya bakat yang khusus, dia bisa mendengar suara dalam foto. Foto pertama yang didengarnya ialah percakapan antara seorang wanita dan pria yang sedang mempertimbangkan untuk memberikan anaknya pada orang lain.

Jadi, semuanya itu bermula dari suatu hari ketika foto-foto yang akan digunakannya sebagai kartu ulang tahun bagi sahabatnya Benjamin Brown tertukar dengan foto orang lain. Foto seorang pria sedang menggendong bayi. Dan di saat itulah hidup Charlie yang damai mulai berubah.

Dalam rumahnya yang ditempati seorang ibu, juga ada seorang nenek dari pihak ibu yang sangat menyayanginya (biasa dipanggil Nenek Jones, walaupun lebih senang dipanggil Maisie), seorang nenek dari pihak ayah yang selalu bersikap dingin padanya (biasa dipanggil Nenek Bone, yang tentunya mungkin tak akan senang jika Charlie memanggil nama depannya saja yaitu Grizelda), dan seorang paman yang senang mengurung diri di kamar dan hidup seperti burung hantu (namanya Paman Paton, dan dia adalah adik bungsu Grizelda). Ayah Charlie sudah tiada delapan tahun yang lalu dalam suatu kecelakaan mobil saat Charlie masih berusia dua tahun.

Grizelda sering kali mengingatkan semua orang bahwa sebelum ia menjadi istri Bone, ia adalah anggota keluarga Yewbeam, sebuah keluarga kuno yang keturunannya rata-rata adalah seniman dan punya bakat istimewa seperti menghipnotis, membaca pikiran dan sihir-menyihir. Karena itu, saat ia melihat Charlie mendengar suara-suara dalam foto, ia girang bukan main karena ternyata Charlie bukan anak yang biasa-biasa saja.

Walaupun Charlie memilih berpura-pura sedang melakukan keisengan, Grizelda tetap tidak percaya dan segera menghubungi tiga saudarinya yang lain untuk melakukan tes pada Charlie yang akan menentukan apakah Charlie diberkahi atau tidak. Jika ternyata ya, maka Charlie akan dimasukkan ke Bloor’s Academy, sekolah untuk anak-anak berbakat.
Pada waktu penilaian, ketiga bibinya berhasil mengelabuinya dan membuat Charlie terpaksa mengakui bakatnya itu. Charlie tidak mau pergi ke Bloor’s Academy. Namun jika ia menolaknya, maka dukungan dana yang diberikan keluarga Yewbeam untuk ibu Charlie dan Nenek Bone akan dihentikan dan mereka akan kehilangan tempat tinggal.

Ketika ayah Charlie meninggal, keluarga Yewbeam yang menyediakan semuanya karena ibu Charlie dan Nenek Bone tidak memiliki sepeser pun. Keluarga Yewbeam menaruh harapan besar akan kemungkinan Charlie dianugerahi bakat, karena itulah Grizelda bersikap murah hati pada ibu Charlie sekalipun ia tak pernah menyukai keputusan ayah Charlie menikahi wanita biasa yang tak diberkahi. Maka mau tak mau, Charlie harus menuruti keinginan Grizelda dan ketiga bibinya.

Karena Bloor’s Academy tidak memiliki jurusan untuk bakat khusus (seperti yang dimiliki Charlie) dan hanya memiliki jurusan musik, seni dan drama, maka Charlie harus masuk jurusan musik seperti ayahnya yang mantan musisi. Dan karena Charlie bukan musisi yang handal, Bloor’s Academy mendatangkan seorang mentor baginya, yang akan mempersiapkan keahlian bermusik Charlie sehingga ia layak diterima di Bloor’s Academy.

Lalu suatu hari ketika para nenek dan ibu sedang tak di rumah, seorang pria aneh dengan tiga kucing berwarna tembaga, oranye dan kuning menyala mengunjungi rumah Charlie. Walaupun curiga, Charlie tak bisa melakukan apa-apa saat pria yang mengenalkan dirinya sebagai Mr. Orvil Onimous dan tiga kucingnya itu masuk rumah Charlie dengan alasan memberantas tikus di dapur rumah Charlie. Dan ternyata, Mr. Onimous bukan sekedar pria biasa, begitu juga dengan ketiga kucingnya yang dinamainya Aries, Leo, dan Sagittarius.

Karena saat melihat foto pria yang menggendong bayi itu, Mr. Onimous bersikap seakan ia telah mengetahui bakat Charlie dan meminta Charlie untuk membantunya menyelesaikan kasus yang sedang dialami orang dalam fotonya. Kasus yang tak bisa diselesaikan dengan baik olehnya dan ketiga kucingnya. Menurut Mr. Onimous, bayi dalam foto itu sedang hilang dan menurut Aries, bayi itu berada di Bloor’s Academy. Mr. Onimous meminta Charlie mengunjungi pemilik fotonya untuk mendengar cerita lengkapnya.

Charlie segera pergi mencari Julia Ingledew, pemilik foto tersebut, dan berhasil mengorek informasi dari Miss Ingledew. Pria dalam foto tersebut adalah saudara iparnya yang bernama Dr. Tolly, seorang penemu jenius yang baru saja meninggal minggu lalu.
Miss Ingledew menyesali keputusannya karena telah mengelak dari kewajibannya untuk menerima bayi Dr. Tolly delapan tahun yang lalu, saat Dr. Tolly memutuskan untuk memberikan putrinya yang telah berumur dua tahun itu pada orang lain setelah ditinggal mati oleh istrinya.

Miss Ingledew berusaha keras mencaritahu keberadaan bayi itu, namun bayi itu sudah terlanjur hilang dan sekarang Miss Ingledew sangat ingin menemukannya kembali. Charlie tidak bisa mengatakan kalau menurut Aries, bayi itu kemungkinan besar ada di Bloor’s Academy. Wanita itu takkan percaya padanya. Lalu, saat hendak berpamitan, Miss Ingledew memberikan dua barang peninggalan Dr. Tolly pada Charlie.

Sebuah robot anjing (yang akan diberikannya sebagai hadiah ulang tahun untuk sahabatnya Benjamin) dan sebuah kotak perak panjang yang menurut Miss Ingledew adalah kotak yang ditukar Dr. Tolly dengan bayinya. Bukan jenis kenang-kenangan yang ingin disimpan Miss Ingledew. Bahkan wanita itu tidak ingin tahu apa isi kotak tersebut. Miss Ingledew hanya meminta Charlie untuk tidak menceritakan apa pun pada orang yang tidak ia percayai.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Charlie bertemu dengan Benjamin dan menitipkan kotak perak panjang di rumah Benjamin. Charlie tidak mau kedua neneknya mengintip isinya. Tanpa diketahui Charlie dan Benjamin, mereka diikuti seorang anak laki-laki berambut merah.

Di rumah Benjamin, kedua anak laki-laki itu mulai memeriksa kotak perak panjang yang terus mengeluarkan suara ketukan dari dalam kotaknya. Tapi ternyata kotak itu terkunci, dan Charlie memutuskan untuk menyimpan kotak itu di tempat tersembunyi di rumah Benjamin. Malamnya, Charlie bersama Paman Paton pergi ke rumah Miss Ingledew untuk meminta kunci kotak itu. Tapi ternyata Miss Ingledew sendiri lupa kunci yang mana tepatnya dalam tumpukan kunci yang dimilikinya. Maka Charlie harus meminjam tumpukan kunci untuk mencoba mereka semua satu-persatu.

Esoknya, Charlie pergi mencoba semua kuncinya, namun tidak ada yang pas. Sementara itu, Grizelda dan ketiga bibinya mulai memaksa Charlie mengakui apa sebenarnya yang Charlie sembunyikan dari mereka. Charlie bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa mengetahui apa yang dilakukan Charlie, dan kenapa mereka begitu tertarik pada kotak itu?

Sementara itu, Charlie juga mendapat rangkaian kesibukan baru sebelum masa belajarnya di Bloor’s Academy dimulai. Fidelio Gunn, seorang anak laki-laki yang merupakan senior Charlie di Bloor’s Academy diutus menjadi mentor les musiknya dan Charlie harus menyisihkan hari Minggu untuk belajar musik bersamanya.
Grizelda juga memastikan Charlie menyelesaikan soal-soal sulit yang jumlahnya lebih dari 500 dalam waktu seminggu. Untung bagi Charlie, Paman Paton yang berpengetahuan luas mau membantunya menyelesaikan 100 soal setiap harinya.

Setelah berhasil menyelesaikan soal-soalnya, Charlie pergi melihat kotak perak yang ada di rumah Benjamin. Mr. Onimous dan ketiga kucingnya sudah ada di sana, namun sepertinya Dr. Tolly sudah memastikan bahwa kotak itu tak bisa dibuka tanpa kunci yang cocok, karena usaha ketiga kucing itu untuk membakar kotak itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Kotak itu masih tetap terkunci.

Untuk melindungi kotak itu dari jangkauan para bibinya, Charlie memutuskan untuk menyembunyikan kotak itu di rumah Fidelio, tanpa sepengetahuan Grizelda dan para bibi tentunya.
Sementara itu, telah tiba saatnya bagi Charlie untuk bersekolah di Bloor’s Academy. Murid Bloor’s Academy diharuskan untuk tinggal di asrama dan hanya diperbolehkan pulang pada akhir pekan.
Hati Charlie terasa berat karena harus meninggalkan rumah, ibunya, Maisie dan Benjamin. Seperti apakah kehidupan Charlie di Bloor’s Academy? Bisakah Charlie menemukan bayi yang hilang itu di Bloor’s Academy, yang jika dihitung-hitung sekarang berusia sebaya dengan Charlie? Berhasilkah Charlie membuka kotak itu? Apa sebenarnya isi kotak itu?

Children of the Red King #1 : Midnight for Charlie Bone - UK Edition Children of the Red King #1 : Midnight for Charlie Bone - UK Edition Children of the Red King #1 : Midnight for Charlie Bone - UK & USA Edition

Jadi seperti biasa, sebagai penggemar Harry Potter, kita kerap kali tak dapat menahan diri untuk membandingkan setiap kisah fantasi dunia sihir dengan buku karya J.K. Rowling yang sangat terkenal di dunia itu.
Dan memang sudah wajar kalau suatu buku bertema magic yang ditujukan untuk young adult, formula dasarnya selalu dimulai dengan bocah yang dianugerahi bakat sihir, sekolah untuk anak berbakat khusus, sejumlah teman yang siap membantu tokoh utama, dan kadang-kadang salah satu orangtua mereka meninggal atau malah dua-duanya. Jadi, mari kita lihat apakah Charlie Bone cukup pantas untuk bersaing dengan Harry Potter? Sayangnya, belum cukup.

Nimmo bukanlah Rowling. Dia tidak memiliki kreativitas dan bakat seperti yang dimiliki Rowling. Dunia Charlie tidak sedetil dan sekompleks dunia Harry Potter. Tidak ada kesan misterius atau pun kesan yang membuat kita percaya bahwa banyak rahasia-rahasia yang tersimpan dalam koridor-koridor sempit atau tempat-tempat tersembunyi Bloor’s Academy seperti yang kurasakan terhadap Hogwarts.

Karakternya juga terasa datar, dan aku sulit sekali merasa bersimpati pada Charlie, terutama karena karakter Charlie kurang realistis dan sangat biasa-biasa saja, tak ada yang spesial darinya. Aku lebih suka kalau Charlie itu anak yang nakal atau pendiam atau sombong atau penyabar atau penakut dll, setidaknya ada satu ciri khas yang membuat kita suka atau tidak suka pada tokoh utamanya. Bukan hanya Charlie, rata-rata tokoh dalam kisah ini memiliki karakter yang datar. Sampai pada akhir cerita pun, aku masih tidak begitu peduli dengan nasib para tokohnya.

Untuk lebih memahami maksudku, boleh melirik karakter tokoh utama di buku 100 Cupboards, Magic Thief atau Nightmare Academy sebagai bahan perbandingan. Karakter para tokoh dalam ketiga kisah ini masih lebih masuk akal.
Aku sering bertanya-tanya sepanjang cerita ini, alasan apa yang begitu mendorong Charlie untuk mencari bayi yang hilang itu? Dia tidak punya hubungan saudara atau pun pertemanan yang menghubungkannya dengan bayi itu. Katanya hanya karena tidak adil bagi keluarga yang kehilangan bayi itu.

Duh, Nimmo…alasan ini tidak cukup kuat dan tidak meyakinkan. Kenapa Charlie yang berusia sepuluh tahun mau menempatkan nyawanya dalam bahaya untuk seseorang yang tak dikenalnya? Setidaknya Harry Potter berusaha menemukan batu bertuah di buku pertamanya karena nyawanya dalam bahaya jika batu itu jatuh ke tangan pihak yang jahat.

Rasa persahabatan Charlie juga perlu dipertanyakan. Dia memang berteman akrab dengan Benjamin, tapi kenapa dia bisa begitu tega menempatkan sahabatnya itu dalam bahaya untuk alasan yang tak masuk akal? Lubang dalam plot cerita, kalau menurutku.
Dan lubang plot lainnya adalah Nimmo tak pernah menjelaskan apakah dunia Charlie adalah dunia yang mengakui adanya ESP atau tidak? Tak pernah dijelaskan. Kita tak tahu apa yang diketahui dunia soal Bloor’s Academy, apakah mereka tahu kalau itu sekolah jenius yang juga ditujukan bagi anak-anak yang memiliki ESP atau tidak?

Contoh lubang plot lainnya lagi, jika kamu percaya seorang anak punya kemampuan untuk terbang, tentunya kamu takkan mengurungnya dalam ruangan berjendela, bukan? Ditambah anak itu tidak diikat pula tangan atau kakinya.
Selain itu, kenapa Charlie masih sibuk saja mengutamakan kepentingan bayi itu di atas segalanya, di saat ia akhirnya mengetahui kalau ayahnya mungkin masih hidup? Anak normal lainnya akan langsung pergi mencari ayahnya yang hilang duluan, bukannya orang yang tak ada hubungannya. Jadinya Charlie ini hanyalah semacam boneka Nimmo untuk menyelesaikan cerita tentang bayi. Pokoknya, fokus pada bayi, karena inti ceritanya kan mencari bayi yang hilang.

Dan, apa yang diinginkan orang jahat dalam cerita ini dari bayi yang hilang itu? Tak pernah dijelaskan pengarangnya. Aku tak tahu apakah memang penjelasannya sengaja disimpan untuk plot buku kedua atau tidak, tapi yang pasti Nimmo meninggalkan banyak pertanyaan dalam benak pembaca.
Walaupun begitu, aku ingin memberi kesempatan pada Charlie Bone. Terutama ada delapan buku dalam seri Charlie Bone ini.

Jadi kuharap pada buku keduanya, Nimmo akan mempersembahkan karya yang lebih baik dari buku pertamanya. Dilihat dari premise-nya, kisahnya sudah cukup menarik meskipun tidak begitu orisinil. Sekolah untuk anak-anak yang punya kemampuan supernatural? Sudah merupakan tema yang umum ditemui, dan sering kubaca dalam komik-komik Jepang. Jadinya tidak begitu mengejutkan lagi.

Cuma yang agak unik adalah bahwa semua anak yang bersekolah di Bloor’s Academy berkerabat jauh satu sama lain. Semuanya adalah keturunan dari penyihir besar terkenal bernama Red King. Dan karena itulah seri buku ini dinamakan Children of the Red King.

Jadi kesimpulanku, bagi pembaca dewasa mungkin akan kecewa pada buku pertama ini, tapi pembaca yang lebih muda seperti anak-anak jelas akan menyambut dengan tangan terbuka pada sihir dan dunia baru yang ditawarkan Charlie Bone setelah kepergian Harry Potter.

0 Response(s):

Post a Comment