The Earthsea Cycle #1 : A Wizard of Earthsea

The Earthsea Cycle #1 : A Wizard of Earthsea - Indonesia EditionBookmark and Share
Author : Ursula K. Le Guin

Rating : ♥♥♥♥

Official Site : Ursula K. Le Guin

A Wizard of Earthsea merupakan kisah kehidupan seorang pemuda bernama Duny (nama yang dimilikinya saat kecil) yang ditakdirkan untuk menjadi penyihir terhebat di Earthsea, sebuah dunia tempat sihir berkuasa dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Di dunia Earthsea, setiap makhluk hidup memiliki banyak nama, namun dengan mengetahui nama sejati makhluk hidup itulah yang membuat orang yang mengetahuinya mampu memiliki kekuasaan penuh terhadap makhluk hidup tersebut.
Oleh karena itu, walaupun penyihir hebat ini dipanggil sebagai “Duny” sewaktu kecil, dan “Sparrowhawk” sebagai nama yang dikenal semua orang, nama sejatinya ialah Ged, dan hanya segelintir orang yang mengetahui namanya ini. Nama sejati seseorang merupakan nyawanya.

Ged dilahirkan di desa terpencil di Gont, Earthsea (yang terdiri dari banyak kepulauan, besar maupun kecil). Bakat sihir Ged ditemukan bibinya saat ia berusia tujuh tahun, dan mulai sejak itu bibinya mengajarinya beberapa ilmu sihir dasar yang digunakan keperluan hidup dan juga pentingnya mengetahui nama sejati makhluk hidup.
Maka dalam waktu lima tahun, Ged --yang telah dipanggil sebagai Sparrowhawk oleh teman-temannya karena sering dihampiri elang-elang-- semakin mahir menguasai ilmu sihir, dipuji bibinya dan ditakuti teman-temannya. Ged semakin yakin kalau ia akan menjadi salah satu manusia terhebat di Earthsea.

The Earthsea Cycle #1 : A Wizard of Earthsea - USA EditionSampai suatu ketika, Ged menyelamatkan desanya dari serbuan bangsa lain dengan menggunakan mantra sihir pengontrol cuaca. Dan berita apa yang telah dilakukannya itu membawa seorang penyihir hebat bernama Ogion (yang terkenal dengan statusnya si penjinak gempa) datang mengunjunginya. Ogion-lah yang menamai Duny dengan nama sejatinya “Ged” di saat setiap bocah laki-laki memasuki usia dewasa dan menyingkirkan nama anak-anak mereka.
Ogion meminta ijin ayah Ged untuk mengangkatnya sebagai anak didiknya. Maka pergilah Ged bersama dengan guru barunya ke Re Albi setelah upacara pemberian nama sejatinya selesai dilakukan Ogion.

Seperti julukan yang diberikan orang-orang padanya, Ogion yang Sunyi mengajarkan pentingnya penguasaan diri, kesabaran dan kerendahan hati pada Ged. Namun Ged yang impulsif dan bangga dengan kemampuan dirinya itu tidak sabar dengan metode pengajaran gurunya yang lambat. Ged pikir dengan berguru pada penyihir hebat ia akan mempelajari mantra-mantra yang luar biasa. Apa gunanya kekuatan itu jika tidak bisa digunakan? Ged yang masih sangat muda tidak memahami ini.

Sampai suatu hari, sebuah insiden kecil pemanggilan arwah --yang dilakukan sebagai pembuktian diri pada seorang gadis-- nantinya akan membuat Ged menyesali ketidakmatangan dirinya di masa depan. Namun untuk saat ini, Ged harus menghadapi Ogion dulu, yang telah memergokinya melakukan mantra yang berbahaya. Ogion meminta Ged memilih, melanjutkan masa pendidikannya bersama Ogion atau pergi ke sekolah sihir di Pulau Roke, sekolah tempat keahlian dan seni sihir tinggi diajarkan.

Ged memutuskan untuk mengejar kejayaan yang telah didambakannya selama ini, sekalipun ia akhirnya menyadari bahwa sebenarnya ia sangat menyayangi Ogion dan ingin tinggal bersama pria itu selamanya. Tapi jalan menuju kejayaan yang diberikan Ogion terasa sangat panjang. Maka beberapa hari kemudian, bersama dengan surat rekomendasi dari Ogion pada pengawas sekolah sihir (sang Archmage), pergilah Ged ke Pulau Roke.

Di sekolah, Ged bertemu dengan lawannya yang sepadan, Jasper dan sahabat sejatinya, Vetch. Dan tak lama, apa yang dikatakan Ogion dalam surat rekomendasinya itu terbukti benar, bahwa Ged akan menjadi penyihir hebat di masa depan. Bakat alamiah Ged dalam ilmu sihir mengantarkannya pada posisi murid terbaik di sekolah, begitu juga dengan kebanggaan dan harga dirinya yang ikut melonjak naik hingga keangkuhan menguasai dirinya. Ged telah lupa akan nasihat Ogion bahwa sihir bukanlah permainan untuk mendapatkan pujian, tapi aksi yang akan mendatangkan kebaikan atau kejahatan. Dan ada harga yang harus dibayar untuk setiap tindakan yang dilakukan.

Ged terpancing emosinya saat ditantang Jasper yang sama berbakatnya dengan Ged dalam ilmu sihir. Dalam duel sihir yang dilakukan keduanya, Ged kembali melakukan kesalahan yang sama. Ia ditantang untuk melakukan mantra terlarang, mantra pemanggilan arwah, dan hampir mati terbunuh saat diserang sesosok bayangan hitam. Bayangan hitam yang sama dengan yang telah dipanggilnya pertama kali. Bayangan itu berhasil diusir oleh Sang Archmage, dengan bantuan para guru-guru sihir lainnya. Namun bayangan itu sudah berkeliaran di dunia. Hanya mantra-mantra hebat yang melindungi Pulau Roke yang mencegah bayangan itu memasuki sekolah.

Ged benar-benar harus membayar mahal untuk memperoleh kedewasaan dan kebijaksanaannya. Insiden itu tak hanya merenggut kemampuan sihir dan stamina Ged, tapi juga nyawa sang Archmage, penyihir terhebat di Earthsea.
Ged menyadari apa yang telah dilakukannya dan apa yang telah dipanggilnya itu akan menghantui dirinya seumur hidup sampai ia bisa menemukan cara untuk mengalahkannya. Saat ini ia masih aman terlindungi dalam sekolah, dan dirinya yang masih hijau tidak memiliki kekuatan dan kebijaksanaan yang cukup untuk berhadapan langsung dengan iblis itu.

Maka menuruti saran Archmage baru, Ged harus menamatkan pendidikannya di sekolah sambil terus mencoba menemukan nama sejati bayangan gelap itu dan memusnahkannya sebelum tubuh dan benak Ged dikuasai sepenuhnya oleh makhluk itu. Karena jika Ged menjadi boneka bayangan itu, maka bahkan dalam hidup ataupun kematian, Ged takkan pernah menemukan kedamaian. Iblis akan menghancurkan dunia melalui tubuh Ged, menggunakan pengetahuan dan kemampuan sihir Ged yang kuat.

Tapi bagaimana caranya menemukan nama sejati dari makhluk yang tak pernah diberi nama? Iblis itu adalah bayangan dari kegelapan hati yang dimiliki Ged selama ini, bayangan dari keangkuhannya, bayangan yang dibuatnya sendiri. Bayangan apakah yang bernama? Maka untuk itu Ged berusaha keras menimba ilmu dan menambah kebijaksanaan diri agar dapat melindungi dirinya saat ia berhadapan dengan iblis itu nantinya.

Lambat laun kemampuannya yang hilang diperolehnya kembali, dan Ged berhasil menamatkan masa sekolahnya di Pulau Roke. Sampai suatu saat sebuah permintaan untuk mengusir naga disampaikan penduduk Low Torning pada Archmage. Mendengar itu, Archmage yang sangat peduli pada Ged itu teringat padanya dan berpikir bahwa Ged mungkin akan aman di Low Torning, tempat terpencil yang mungkin tidak akan terjangkau oleh bayangan itu.

Namun semuanya tergantung pada Ged, jika Ged memilih untuk menetap selamanya di Pulau Roke, hidup Ged akan aman selamanya terlindungi dalam mantra-mantra yang menjauhkannya dari bayangan itu. Tapi ternyata Ged setuju untuk menjadi penyihir kotapraja Low Torning. Tidak ada ketenaran maupun kekayaan di sana, namun Ged yang baru ini telah berhenti mencari ketenaran dan lebih berhati-hati menggunakan kekuatannya sejak insiden pemanggilan arwah itu.
Ia murni hanya tertarik pada kesempatan bertemu langsung dengan naga, yang sering dilihat di buku. Berhasilkah Ged mengusir naga? Berhasilkah ia menemukan nama bayangan itu dan memusnahkannya? Dari dikejar hingga mengejar, petualangan Ged membawanya mengelilingi Earthsea dan mengobarkan nama besarnya (Sparrowhawk) hingga ke seluruh penjuru Earthsea.

A Wizard of Earthsea - Japan Movie Poster The Earthsea Cycle #1 : A Wizard of Earthsea - UK Edition The Earthsea Cycle #1 : A Wizard of Earthsea The Earthsea Cycle #1 : A Wizard of Earthsea - USA Edition

Pada awalnya, aku tidak begitu tertarik dengan buku ini, sekali pun sudah membaca summary di sampul belakangnya. Namun pujian dan rekomendasi dari pembaca lainnyalah yang membuatku penasaran dengan isi buku ini.
Novel ini mengupas kisah mengenai transformasi Ged sedari remaja hingga dewasa, bagaimana perjuangan dan lika-liku kehidupan Ged untuk memperoleh kebijaksanaan dan menjadi penyihir terkuat di Earthsea.

Dalam dunia Earthsea, semuanya adalah masalah keseimbangan. Setiap aksi memiliki reaksi. Hidup seorang penyihir dihabiskan dengan mempelajari nama sejati makhluk-makhluk di dunia Earthsea. Seorang penyihir harus belajar berpikir dua kali sebelum menggunakan kekuatannya secara sembarangan, karena setiap mantra memiliki konsekuensinya sendiri.
Karena itulah, sehingga penyihir yang dilatih mantra tingkat tinggi hanyalah penyihir pria. Penyihir wanita tidak memperoleh kesempatan untuk itu, dan biasanya seni sihir yang dipelajari mereka itu hanya sebatas sihir pengontrol cuaca, ramuan cinta, ramuan penyembuh, dan sihir-sihir untuk kehidupan sehari-hari seperti sihir untuk menggembala kambing.

Buku ini berfokus pada tema bahwa setiap manusia memiliki ketakutan dalam diri mereka dan bagaimana cara kita belajar mengatasinya dan menerimanya, bahwa setiap manusia di dunia memiliki sisi baik dan buruk dalam dirinya, dan setiap orang pernah menghadapi pertarungan batin setidaknya sekali dalam kehidupan mereka.

Bagi Ged, ia membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan pertarungan batin itu, bertahun-tahun, bermil-mil, dan sejumlah besar pertarungan untuk memahami apa sebenarnya yang sedang ia hadapi selama ini. Namun ia tak menyadari bahwa jawaban dari masalah itu sebenarnya begitu mudah dan jelas.

Gaya penceritaan buku ini dituturkan dalam narasi dari sudut pandang pihak ketiga, sehingga bagi pembaca yang lebih menikmati banyaknya dialog percakapan mungkin tidak akan begitu terbiasa dengan yang satu ini, karena dialognya sangat minim dan hanya seperlunya saja. Last but not least, buku ini merupakan kisah fantasi yang patut dibaca dan dikoleksi Anda yang menggemari kisah fiksi bertemakan sihir.

Book #2 : The Tombs of Atuan

4 Response(s):

  1. Setuju. Sihir itu lebih banyak kerugiannya dibanding keuntungannya.

    ReplyDelete
  2. Halo Anne, i love your blog!

    Buku Wizards ini bagus, tapi awalnya sempet sebel dengan tokoh utamanya, Ged ini penggerutu sekali :p Untungnya walau dari POV ketiga, gaya penceritaannya menarik dan ada beberapa kalimat bagus di buku ini.

    ReplyDelete
  3. Thanks Mia :)

    Memang awalnya sempat sebel juga dengan Ged, karena terlalu tinggi hati. Tapi, menarik juga karena tokoh yang memiliki sifat buruk akhirnya bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

    Sayang, buku keduanya agak membosankan.

    ReplyDelete
  4. Iya,untungnya sifat Ged berubah dan semakin ke belakang sepertinya kita melihat perubahan dari yang sosok yang iri, sombong menjadi pria yang rendah hati.

    Err, blom tertarik baca buku keduanya :p

    ReplyDelete