Lorien Legacies #1 : I Am Number Four

Lorien Legacies #1 : I Am Number Four - UK EditionBookmark and Share

Author : Pittacus Lore

Rating : ♥♥♥♥♥

Official Site : Pittacus Lore

Nomor Satu, Dua, dan Tiga telah mati.

Aku Nomor Empat.

Dan aku berikutnya.



Nomor Empat bukan remaja biasa, bahkan dia bukan manusia, walaupun penampilannya mirip manusia. Dia adalah alien yang sedang dalam pelarian. Berpindah-pindah dari satu kota kecil ke kota kecil lainnya secara berkala sudah jadi rutinitas baginya. Entah sudah berapa kali ia berganti identitas, rumah, sekolah, dan teman. Tak ada yang boleh tahu siapa ia sebenarnya, jika ia ingin bertahan hidup. Saat ini, nama yang dipakainya adalah John Smith.

John berasal dari Planet Lorien, sebuah planet kecil dan indah yang berada di sistem tata surya yang berbeda dengan bumi. Ada dua jenis warga di Lorien, Garde yang tugasnya melindungi planet dan Cêpan yang menjalankan planet.
Garde adalah warga yang memiliki Pusaka atau kekuatan ESP, seperti kekuatan mengendalikan elemen alam, kemampuan terbang, kemampuan membaca pikiran, kemampuan untuk menjadi tak terlihat, kemampuan berkomunikasi dengan binatang dan lain-lain.
Sementara Cêpan adalah warga yang tidak memiliki kekuatan, mereka biasa disebut Penjaga. Sejak kecil, setiap Garde didampingi satu Cêpan. Cêpan membantu Garde memahami sejarah planet dan bagaimana mengembangkan kekuatan mereka.

Kehidupan di Lorien begitu damai dan tenang, sampai kaum Mogadorian muncul dan menyerang mereka di saat mereka lengah, di saat para Tetua planet sedang pergi. Kaum Mogadorian memanfaatkan kesempatan itu untuk merebut planet mereka, mengandalkan hewan buas planet Mogadore. Planet Lorien akhirnya berhasil dihancurkan dalam waktu singkat.

Namun, sembilan Garde muda beserta sembilan Cêpan berhasil dilarikan tepat pada waktunya ke Bumi, setelah diberi mantra Loric oleh salah satu Tetua planet. Mantra yang mengikat semua Garde muda itu, mantra pelindung yang membuat mereka hanya bisa dibunuh secara berurutan, asalkan mereka tetap terpisah. Jika mereka bersama, maka mantra pelindung itu akan terpatahkan.

Lorien Legacies #1 : I Am Number Four - USA & Indonesia EditionJika salah satu dari mereka ditemukan dan dibunuh, akan muncul bekas luka goresan di pergelangan kaki kanan Garde yang masih hidup. Dan kesembilan Garde muda hidup bersembunyi secara terpisah di Bumi, menunggu saat Pusaka mereka berkembang dan bertemu satu sama lainnya untuk bertempur terakhir kalinya dengan kaum Mogadorian yang kejam.
Dengan harapan, jika mereka menang, mereka bisa kembali ke kampung halaman mereka, membangun kehidupan baru di Lorien.

Sepuluh tahun telah berlalu sejak pelarian mereka ke Bumi. Kaum Mogadorian tak kenal lelah memburu mereka. Ibarat berganti pakaian, seperti itulah cara John dan Henri (Cêpan-nya) berganti kota, nama dan kehidupan. Berbekal intan sumber daya alam Lorien sebagai biaya hidup di Bumi, uang bukanlah masalah besar. Mereka juga sudah terlatih bersembunyi, tidak berteman dengan siapa pun, tidak melakukan hal-hal yang bisa menarik perhatian orang. Dan jika ada seseorang yang memperhatikan keanehan tertentu pada John, mereka akan segera berkemas, membakar rumah lama mereka dan pindah ke tempat baru.

Lorien Legacies #1 : I Am Number Four - USA EditionDari luka goresan di pergelangan kaki kanannya, John tahu kalau Nomor Satu, Dua, dan Tiga telah mati dibunuh. Sekarang gilirannya, si Nomor Empat. Sekarang setelah ia mengetahui kematian Nomor Tiga dari luka goresan baru di kakinya, ia dan Henri memutuskan untuk bersembunyi di kota terpencil di Ohio, Paradise. Walaupun sejujurnya, ia sudah lelah dengan semuanya ini. Lagipula, ia tidak bisa terus kabur selamanya. Maka kali ini, ia akan mencoba untuk menetap di Paradise.

John tak menyangka bahwa ia akan menemukan banyak hal berharga dalam hidupnya di Paradise. Kali ini, dia punya teman baru, teman yang benar-benar peduli padanya dan begitu juga dengan John. Dia juga bertemu dengan gadis cinta sejatinya, dan bahkan dia punya anjing peliharaan kali ini.
Pusaka pertamanya juga mulai berkembang dan ia mulai berlatih memperkuat kemampuan Pusakanya, sambil menunggu Pusaka-Pusaka lainnya bermunculan. Tapi sekali ini, musuh mereka pun semakin dekat dan John tidak ingin lari lagi. Dia bertekad untuk melawan kaum Mogadorian. Tapi, bisakah ia seorang diri melawan kaum Mogadorian yang jumlahnya lebih banyak itu? Apakah kali ini ia harus kembali kabur, meninggalkan semuanya dan hidup diburu selamanya?

Sekali ini, aku menahan diri untuk tidak membocorkan terlalu banyak informasi menarik (seperti kekuatan John, kisah kehidupannya di Paradise, pertemuan pertamanya dengan Mogadorian, alasan Mogadorian memburu mereka dan menghancurkan planet Lorien, alasan di balik kekalahan Lorien, dan masih banyak lagi) dalam resensi ini, untuk tidak mengganggu keasyikan bagi pembaca yang berniat membaca atau menonton filmnya. Mengenai Pusaka pertama John, akan lebih baik jika pembaca mengetahuinya sendiri saat membacanya, sehingga lebih terasa surprise-nya.

Kuucapkan terima kasih pada Penerbit Mizan yang telah menerjemahkan dan merilis buku ini di Indonesia. Pada awalnya, aku sama sekali tak tahu-menahu soal buku ini yang katanya sedang dibuat versi filmnya. Tapi berkat promosi gencar penerbit di Facebook mereka, aku jadi cukup antusias menanti-nantikan tanggal terbitnya.
Bukan karena akan dijadikan film, tapi karena summary bukunya sangat menarik sekali. Walaupun setelah membaca bukunya, aku bisa mengerti kenapa filmnya sendiri sudah diprediksikan sebagai salah satu film sci-fi yang paling dinanti-nantikan di 2011, film yang akan masuk jajaran Box Office. Berikut adalah movie poster-nya.

I Am Number Four - Movie Poster I Am Number Four - Movie Poster I Am Number Four - Movie Poster I Am Number Four - Movie Poster

Ini adalah buku kedua bertema sci-fi yang kubaca, setelah seri Uglies yang ditulis Scott Westerfeld. Dan aku sangat menyukainya. Buku ini sangat fantastis, wajib dikoleksi oleh siapa pun yang menyukai genre action, suspense, fantasi, dan sci-fi.
Adegan action-nya pada akhir bukunya benar-benar luar biasa menegangkan dan intens, begitu terserapnya aku dalam dunia buku ini sampai-sampai tidak bergerak sedikit pun saat duduk. Bayangkan saja, terakhir kalinya baca buku lain, rasanya masih ingat melihat jam, melemaskan otot yang kaku dan pegal karena sudah duduk seharian. Tapi saat membaca adegan klimaks buku ini, mata terus terfokus pada kalimat demi kalimatnya, penasaran dengan nasib John. Padahal aku sudah mengintip ending-nya waktu di pertengahan cerita (kebiasaan buruk, aku tahu :p).

Buku ini kuselesaikan dalam waktu 8 jam sekali duduk, saking serunya sampai kantuk pun terlupakan sama sekali. Untung bacanya pas akhir pekan, jadi tidak apa-apa kalau begadang. :p

Tak sabar menanti filmnya dirilis 18 Februari 2011, apakah filmnya akan sebagus bukunya? Apakah banyak adegan yang dipotong? Kuharap tidak, dan kuharap jangan sampai bernasib sama dengan film Eragon.
Bagi yang ingin melihat teaser movie-nya. Klik di sini.

Lorien Legacies #1 : I Am Number Four - UK Edition Lorien Legacies #1 : I Am Number Four - UK Edition Lorien Legacies #1 : I Am Number Four - UK Edition

Pittacus Lore adalah nama pena yang digunakan kedua pengarang buku ini, James Frey dan Jobie Hughes. Walaupun Pittacus Lore sendiri sebenarnya adalah salah satu tokoh yang tidak muncul dalam kisah ini. Pittacus Lore adalah pemimpin para Tetua planet, Tetua penguasa Planet Lorien yang saat ini menetap di bumi, mempersiapkan pertempuran yang akan menentukan nasib Bumi. Begitulah yang tertulis di halaman belakang sampul buku.

Teori ras alien yang hidup bersembunyi di antara kita sebenarnya bukan hal yang baru bagi para penggemar fanatik UFO dan alien. Kadang sering kali terbersit dalam pikiranku bahwa bisa jadi memang teori itu benar. Siapa bilang alien penampilannya harus kayak ubur-ubur? Bisa jadi seperti John dalam kisah ini, mirip dengan manusia. :p

Tapi, yang paling menarik dari plot cerita ini ialah kisah tentang Planet Lorien yang mirip dengan Bumi, kehidupan mereka, penampilan mereka semuanya mirip sekali dengan manusia Bumi. Kecuali mereka semuanya dianugerahi kekuatan supernatural, dan tentunya kekuatan fisik yang melebihi manusia Bumi.

Selain itu cara pengarang menjabarkan dan menggunakan misteri-misteri dunia sebagai elemen pendukung dalam kisah benar-benar membuat kisahnya menjadi begitu masuk akal. Jika memang seperti apa yang dikatakan kedua pengarang itu, maka misteri piramida Mesir dan Crop Circle terjawab sudah. :p

Aku juga suka dengan hubungan Henri dan John, yang bagaikan ayah dan anak. Bukan sekedar wali dan anak didik biasa. Kasih sayang di antara mereka berdua begitu tulus dan nyata, Henri benar-benar menyayangi John, bukan dedikasi atau kewajiban semata. Dia membantu John mengembangkan Pusakanya, melakukan segala upaya untuk membuat John tetap aman, selalu mendukung dan memaafkan John sekali pun John mengecewakannya. Sungguh figur mentor/pengawal/ayah yang sangat ideal.

Karakter John juga dikembangkan dengan baik. Meskipun ia adalah alien, John begitu ingin menjadi manusia normal, berhenti melarikan diri. Namun ia tidak bisa, selama kaum Mogadorian masih memburunya, selama tanggung jawab menjaga keberlangsungan hidup Planet Lorien masih ada di pundaknya. Pembaca mau tak mau merasa bersimpati pada takdirnya.

Tak sabar rasanya menantikan buku selanjutnya saat John bertemu dengan Garde lainnya, yang bisa jadi juga sudah memiliki Pusaka mereka masing-masing. Penasaran sekali dengan Pusaka John yang berikutnya, termasuk Pusaka Utamanya. Bayangkan, memiliki banyak kemampuan supernatural sekaligus.

Buku keduanya, The Power of Six akan dirilis musim semi 2011. Semoga Mizan bisa merilis buku terjemahannya dalam rentang waktu yang tak terlalu jauh. Sejauh ini, kualitas buku terjemahan Mizan selalu bagus, typo sangat jarang ditemukan, dan untungnya dalam buku I Am Number Four ini (seingatku) tidak ada typo sama sekali yang mengganggu keasyikan membaca.

11 Response(s):

  1. Wah... baru kali ini ada yang memujua buku ini sampai segitunya. Rata2 review yang saya baca memberi nilai 'biasa' untuk novel ini.

    Alasannya sih, teknologi yang dipakai para alien gak meyakinkan. Link ini: http://miki-sensei.livejournal.com/68520.html

    ReplyDelete
  2. Note : Spoiler. Kuusahakan untuk tidak membocorkan terlalu banyak, tapi setidaknya bocoran ini akan membuat kita lebih paham dan menilai sendiri apakah memang I Am Number Four seperti yang dikatakan Dr. Miki dalam resensinya di link yang diberikan oleh Kencana.

    Terlepas dari itu, aku menghargai pendapat masing-masing orang. Aku hanya berusaha memberitahu apa yang kudapat dari buku ini.
    Sudut pandang dan kesukaan masing-masing pribadi tentunya berbeda-beda. Dan itulah yang menarik, kita bisa menilai film ini dari sisi lain saat mendengar kritik orang lain :)

    Mungkin ada sebagian penggemar kisah sci-fi lebih berharap jika kisah itu difokuskan pada teknologi yang canggih. Namun buatku yang lebih menyukai kisah yang difokuskan pada hubungan antar individu atau makhluk (baik antara alien, manusia, hantu, hewan atau makhluk supernatural), sci-fi hanyalah pelengkap atau bonus.
    Jadi tergantung selera masing-masing orang.

    Walaupun, jika melihat rating di luar negeri, hanya sedikit sekali yang memberi rating rendah untuk buku pertama ini. Namun, jika dibandingkan dengan Twilight, maka jelas buku ini lebih baik dari Twilight.

    Kalau yang di Indonesia, aku tak begitu tahu apa reaksi mereka yang sudah membaca buku ini. Soalnya buku ini baru terbit sekitar (kalau tak salah ingat) seminggu lebih di sini. Dan karena ini terbitan Mizan, bukannya Gramedia, maka aku beranggapan kalau saat ini yang sudah selesai membaca buku ini hanyalah seputar area Jakarta atau yang berdekatan dengan Jakarta.

    Fyi, aku juga tidak suka dan gemas saat mengetahui John dengan begitu bodohnya memilih tidak meninggalkan Sarah. Dan aku juga senang karena akhirnya dia berpisah dengan Sarah. Karena aku bertanya-tanya, apa sebenarnya yang membuat dia jatuh cinta setengah mati pada Sarah sampai rela kehilangan nyawa? Masa cuma karena tampang Sarah yang cantik atau karena Sarah menerima dirinya apa adanya, menerima kenyataan bahwa John adalah alien? Tidak ada yang khusus dari Sarah sebenarnya, yang pasti sih karakternya masih jauh lebih baik dari Bella di Twilight Saga.

    ReplyDelete
  3. Mental/kejiwaan/hati John bisa dibilang sudah bukan milik alien lagi, sudah praktis seperti milik manusia. Karena ia sudah tinggal di Bumi selama 10 tahun, berusaha membuat dirinya seperti manusia lainnya supaya tidak ketahuan oleh musuh.

    Dan tak heran kalau dia tidak begitu merasa terikat dengan Lorien pada awalnya, karena masa lalunya di Lorien sudah terlupakan sama sekali, John masih berusia 4 tahun saat dilarikan ke Bumi, dan perlu waktu 1 tahun untuk sampai ke Bumi.
    Ingatan masa lalunya barulah muncul saat Pusakanya bangkit. Apakah Henri tidak memberitahu masa lalu mereka? Tentu saja ada. Mendengarkannya dari orang lain alih-alih mengalaminya langsung itu sangat berbeda.
    (Fyi, John yang masih 4 tahun tidak berada di arena pembantaian, dan tahu apa yang sedang terjadi di planetnya waktu itu karena 9 Garde muda itu sedang berkunjung ke area pesawat ruang angkasa.)

    Di saat Pusakanya bangkit, John mendapat visi kejadian masa lampau, di dalam kepalanya ia bisa melihat reka ulang adegan kehancuran planetnya, peristiwa pembantaian yang sedang terjadi saat ia sedang berada di tempat lain. Dan saat itu, John akhirnya memahami semuanya, merasakan keterikatan pada Lorien.

    Namun, hati John sudah begitu "manusia", dia memang punya tanggung jawab pada Lorien, tapi dia cuma remaja usia 15 tahun yang ingin kehidupan normal. Nobody's perfect, bahkan alien. Jika mereka sempurna, maka mereka seharusnya takkan bisa dikalahkan musuh sejak awal. Dan jika tokoh utama tak punya cacat atau kekurangan dalam karakter, kok rasanya jadi kurang realistis yah?

    Aku menduga ada rencana besar yang sedang disembunyikan Pittacus Lore dan para Tetua planet dari para Garde. Karena, ada beberapa hint yang diberikan pengarang dalam kisah ini. Para Tetua planet seharusnya dengan mudah bisa menghancurkan Mogadorian, namun suatu kebetulan di saat musuh mulai menyerang, para Tetua planet langsung pergi dari Lorien.

    Mogadorian kuat dan menang mutlak karena mengandalkan jumlah pasukan, strategi perang yang cerdik, momen yang tepat, hewan buas dan senjata perang yang canggih. Bukan cuma pedang seperti yang disebutkan Dr. Miki dalam resensinya.

    Sama seperti yang dikatakan Dumbledore pada Harry bahwa jika ingin mengalahkan Voldemort, dia harus paham terlebih dahulu individu seperti apakah Voldemort itu. Dalam perang, strategilah yang terpenting, bukan kekuatan.

    Dan meskipun masih banyak yang belum dibocorkan pengarang pada kita, para Garde muda ini sepertinya hanya bisa dibunuh dengan pedang khusus, pedang yang dapat mematahkan mantra perlindungan lain yang diterakan Tetua planet bersamaan dengan Mantra Loric. Karena itulah Mogadorian membunuh para Garde yang di Bumi dengan pedang, sambil dibantu hewan buas juga. Mogadorian sendiri juga memiliki kekuatan supernatural yang unik.

    ReplyDelete
  4. Kurasa aku tahu kenapa di saat perang, Lorien tidak mengandalkan teknologi tinggi untuk menyerang musuhnya. Ada 2 alasan, pertama karena senjata sudah tidak diproduksi lagi sejak planet mereka hampir mati di masa lampau (bukan karena perang antar sesama tapi karena penyebab lain).

    Yang kedua, aku berasumsi kalau dirimu sudah punya banyak kemampuan supernatural seperti terbang, menembakkan laser dari tangan, mengendalikan elemen seperti petir dan api, tentunya kamu takkan repot-repot lagi menaiki UFO untuk menembakkan laser bukan? Tidak seefisien menggunakan tubuh. Namun mereka tetap kalah melawan Mogadorian, kenapa? Temukan jawabannya dalam buku ini. Karena memang jawabannya masuk akal.

    Lalu, kenapa Mogadorian tidak mengandalkan teknologi tingginya saat mengejar para Garde muda itu? Karena mereka tidak ingin ketahuan oleh penduduk Bumi. Kenapa? sekali lagi, jawabannya ada dalam buku. ;p

    Intinya, mungkin pembaca sering bingung yah, yang satu memujinya habis-habisan, yang satu mencelanya habis-habisan. Jika bingung, tidak usah pedulikan pendapat siapa pun, sebaiknya dibaca dan dilihat sendiri, siapa tahu ceritanya mengena di hati. Jika tidak, yah setidaknya kita sudah tahu apa sebenarnya isi buku ini, kita bisa tahu apa yang secara samar hendak disampaikan pengarang pada kita.

    Btw, Pusaka John bukan sekedar tangan yang menyala bak senter seperti dalam trailer filmnya. Tapi lebih hebat dari itu. Menjadi senter hanyalah fungsi sampingan. Dan Pusaka yang satu ini hanyalah Pusaka ke sekian dari seorang Garde. Pusaka utama John masih belum muncul dan akan menjadi Pusaka yang terakhir muncul. Bahkan sampai akhir buku pertama masih belum muncul.

    Mengenai pendapat Dr. Miki dalam resensinya kalau kekuatan telepati tiada gunanya dalam membujuk hewan liar dan hewan buas seharusnya ditembak saja, aku harus bilang kalau aku tidak setuju.

    Aku memang tak paham bagaimana cara telepati bekerja atau cara menggunakan telepati, karena aku tak punya kekuatan telepati untuk mencobanya. Tapi jika kamu bisa berkomunikasi dan membujuk hewan buas dengan telepati, kenapa pula harus pakai senjata? Tidak perlu ada pembunuhan yang sia-sia, bukan?

    Apa harapan yang dimiliki oleh 6 orang yang tersisa untuk mengalahkan Mogadorian? bagaimana cara mereka mengalahkan Mogadorian yang banyak jumlahnya itu? Mungkin tidak masuk akal, dan wajar kalau kita pesimis saat memikirkan kalau 6 Garde itu masih punya harapan untuk kembali ke Lorien.
    Tapi, cara mereka dan perjuangan mereka untuk mewujudkan harapan itu, itulah yang menarik untuk disimak dan diikuti.

    Aku lebih suka dengan kisah yang bermakna, daripada kisah perang yang difokuskan pada pembantaian tanpa henti di antara kedua belah pihak. Jika ingin yang begituan, kusarankan untuk menonton film saja, karena di situlah letak perbedaan film dan buku.
    Maka sekali lagi, apa pun penilaian Dr. Miki dan aku, semuanya tergantung selera masing-masing orang. :)

    ReplyDelete
  5. Cannot wait to see the movie... :)

    ReplyDelete
  6. Review Anne bikin penasaran, sepertinya akan segera dibeli kalau ke toko buku.
    Sayang covernya ikut cover film, nanti buku keduanya bakal ga sama dengan buku pertamanya.

    Nice review, gonna stop by soon as i read this book :)
    Oia, sedang baca Shadow Kiss? Buku ketiga ini buku terbaik VA sepertinya, ditunggu reviewnya non :)

    ReplyDelete
  7. Kalo aku sih terserah aja mau cover-nya kaya mana, yg penting isinya. Dan yg penting tdk ada typo, krn itu benar2 mengganggu konsentrasi saat sedang 'tenggelam' ke dunia buku. ;)

    ReplyDelete
  8. Hai!! Senangnya menemukan blog penyuka buku. Hehe. Yang bagus dari buku ini menurut aku sih cara membangun plotnya jadinya dari halaman ke halaman yang baca penasaran. Kalo isi ceritanya sih memang masih banyak yang lebih dahsyat ya!!
    Nice review and nice to know your blog. Mohon izin untuk di blog roll ya...

    ReplyDelete
  9. Oke, aku pasang juga link-nya Mbak Annisa ya. :)

    ReplyDelete
  10. aku juga selesaiin bukunya dalam waktu sehari ^ ^
    bagus buangetttt ^ ^
    realistis n biarpun banyak pertanyaan belum terjawab, semoga bisa terjawab di buku kedua
    sama menariknya dengan Harpot n Alchemyst, sekali baca, ga bisa berhenti ...
    sayang filmnya ga masuk di Indo
    mau nunggu ada HD nya buat donlot dechhh ^ ^

    ReplyDelete
  11. Menurut temanku yg udah nonton filmnya, katanya sih lumayan..cuma, tdk ada adegan John yg mendapat flashback ingatan masa lalu.
    Hanya itu yg aku tahu, gak nanya2 lebih lanjut lagi, jadinya juga gak tau apa ada adegan-adegan lain dalam bukunya yg dipotong di filmnya.
    Yah, kalo soal film sih, jgn berharap lebih deh, supaya ga terlalu kecewa. ;)

    ReplyDelete