Magic Thief #1 : The Magic Thief

Magic Thief #1 : The Magic Thief - UK EditionBookmark and Share
Author : Sarah Prineas

Rating : ♥♥♥♥♥

Official Site : Sarah Prineas

Wellmet merupakan rumah bagi Duchess, penyihir, pencuri dan juga sihir. Namun, tingkat sihir mengalami penurunan yang begitu drastis sehingga Wellmet berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Nevery Flinglas, penyihir yang diasingkan Duchess dua puluh tahun yang lalu, kembali pulang dan menawarkan bantuan pada Duchess untuk menyelamatkan Wellmet.

Tentu saja, Nevery akan langsung dijebloskan ke penjara jika ketahuan menginjakkan kakinya tanpa ijin di Wellmet. Dengan mantra sihirnya, ia berhasil menghindari penjaga, tapi ia malah terdesak ke Twilight, bagian gelap dan kumuh dari Wellmet.
Nevery takkan kembali ke Wellmet kalau bukan karena surat dari Brumbee temannya sesama penyihir yang memintanya membantu menangani masalah sihir yang menghilang.

Sekarang hal-hal pertama yang harus dilakukannya ialah mencari akomodasi di Twilight, menemui Brumbee dan Underlord Crowe (penguasa Twilight) dan memperkerjakan Benet sebagai pengawal. Juga menyurati Duchess untuk menarik perintah pengasingan jika Duchess menyetujui tawarannya untuk menangani masalah Wellmet.

Sementara itu, malam yang dingin dan basah hadir di Twilight, Connwaer --si anak jalanan yang kelaparan dan sedang bersembunyi dari kejaran Underlord-- melihat seorang kakek-kakek lewat di hadapannya.

Dengan tangan pencurinya yang cekatan, Conn mengosongkan saku mantel pria tua itu. Hanya untuk menemukan bahwa benda yang dicurinya bukanlah uang yang dapat digunakannya untuk membeli makan malam, tapi sebuah locus magicalicus.

Sebuah batu yang digunakan penyihir untuk memfokuskan dan menghasilkan sihir. Batu itu seharusnya bisa langsung merenggut nyawa Conn saat tangannya menyentuh batu itu. Tapi tidak ada yang terjadi. Dan pemilik batu itu, penyihir tua bernama Nevery cukup penasaran pada Conn sehingga ia memutuskan untuk menerima Conn sebagai pelayan.
Di sisi lain, Conn justru mengira Nevery mengangkatnya sebagai murid penyihir.

Magic Thief #1 : The Magic Thief - USA & Indonesia EditionDuchess menyetujui usul Nevery dengan syarat tidak ada eksperimen yang melibatkan penggunaan api lagi. Dengan hati lega Nevery kembali ke rumah lamanya, Heartsease, rumah besar yang sudah separuh hancur di sebuah pulau di sungai.

Nevery kemudian menjelaskan pada Conn siapa dia sebenarnya dan apa tujuan kepulangannya dari pengasingan. Pertama-tama, Nevery akan menuntut tampuk kepemimpinan dalam proyek penyelidikan sihir yang menyurut itu.
Nevery juga menjelaskan sistem pemerintahan dan pembagian kekuasaan di Wellmet, walaupun sebenarnya Conn sudah mengetahui semua hal itu.

Duchess bertempat di Sunrise, kota tempat orang-orang kaya dan rumah-rumah mewah berada. Underlord sendiri memerintah Twilight, kota tempat pabrik, penggilingan, gudang dan rumah-rumah kumuh berada. Sedangkan deretan pulau sepanjang sungai dikuasai para magister/penyihir. Dan ketiga penguasa ini saling mengimbangi satu sama lain.
Lalu, bersama dengan Benet dan Nevery, Conn mulai melakukan tugasnya sebagai pelayan dan membersihkan Heartsease setibanya di sana.

Di dasar hatinya, Conn sebenarnya sudah tahu untuk tujuan apa Nevery menerimanya di Heartsease. Namun, selama ada cukup makanan, selimut hangat, dan pelajaran serta pekerjaan yang memenuhi kepala Conn, maka tidak akan ada hal lain lagi yang lebih membahagiakan anak itu. Dan untuk sementara, kedua belah pihak sama-sama puas dengan situasi ini.

Pada hari keduanya di Heartsease, Conn diminta Nevery untuk memata-matai rapat para magister di pulau Balai Magister. Nevery telah mengubah wujud Conn menjadi seekor kucing hitam. Conn segera melaporkan hasil pertemuan para magister pada Nevery. Bahwa para magister setuju Nevery menjadi pemimpin mereka dalam proyek investigasi sihir Wellmet, namun harus Nevery yang memintanya sendiri pada mereka.

Conn kemudian bertanya pada Nevery kapan penyihir itu akan mengajarinya mantra-mantra. Nevery menegaskan bahwa ia tak pernah bermaksud mengangkatnya sebagai murid, hanya sebagai pelayan.
Nevery kemudian meminta Conn menyebutkan mantra Embero yang diucapkannya saat ia mengubah Conn menjadi kucing. Conn berhasil mengulang mantra yang luar biasa panjang itu tanpa kesulitan.

Tapi Conn telah menetapkan hatinya, ia lebih memilih kembali menjadi pencuri dan kekurangan makanan daripada menjadi pelayan bagi Nevery. Menjadi pelayan Nevery akan membuat hidupnya lebih mudah, namun ia tidak bisa menjadi pelayan. Setelah berpikir sejenak, Nevery akhirnya setuju menaikkan status Conn menjadi muridnya. Maka dimulailah masa pelatihan Conn sebagai murid Nevery.

Karena Conn tak pernah mendapat pendidikan seumur hidupnya maka tak heran kalau dia tak bisa membaca, sementara Nevery sendiri disibukkan dengan proyeknya dan tidak punya waktu mengajari Conn membaca. Maka Conn akan dikirimkan ke Academicos, mengikuti sekolah sihir bersama dengan murid-murid terbaik di kota.
Tapi, sudah menjadi tradisi bahwa untuk diterima secara resmi sebagai seorang murid penyihir, seorang murid penyihir harus diperkenalkan di Balai Magister.

Permainan politik yang terjadi di antara para magister ditambah dengan latar belakang Conn yang tidak terlalu bagus menyebabkan Conn menemui kesulitan memperoleh persetujuan dari para magister. Conn diharuskan menemukan locus magicalicus-nya dalam waktu sebulan jika ingin diakui sebagai murid Nevery.

Maka Conn mulai menghabiskan waktunya memilah batu-batu persediaan di Academicos sambil diajari cara membaca oleh Rowan Forestal, mentor sekaligus teman barunya yang diutus Brumbee untuk membantu Conn.
Begitu banyak batu yang tersedia di Academicos, tapi entah kenapa Conn yakin kalau batu miliknya tidak ada di sana. Ia tidak merasakan panggilan batu itu atau perasaan apa pun saat menyentuh batu-batu itu. Apakah mungkin batu miliknya itu sebenarnya ada di tempat kelahirannya?

Maka Conn pun mulai berkeliling Twilight mencari locus magicalicus-nya dan mulai mengabaikan waktu belajarnya di Academicos. Waktu terus berlalu, dan Conn masih belum menemukannya locus magicalicus-nya. Nevery sendiri terlalu sibuk dengan urusannya untuk membantu Conn mencarinya. Penyebab kemerosotan tingkat sihir masih belum dapat ditemukan.
Bisakah Conn menemukan locus magicalicus-nya? Apa sebenarnya yang menyebabkan sihir menghilang dari Wellmet? Dan bisakah Nevery menyelamatkan Wellmet dari kehancuran?

Kisah hubungan antara Conn, Nevery dan Benet-lah yang membuatku memberi buku ini rating lima bintang. Walaupun plot cerita dan premise-nya memang menarik. Bayangkan, sihir itu adalah makhluk hidup. Pernahkah terpikirkan dalam imajinasi terliar kita kalau sihir itu punya keinginan sendiri dan bisa mati serta lenyap?

Yang menarik, selain diutarakan dari sudut pandang Conn, pengarang juga menyertakan buah pikiran Nevery dalam buku ini dengan menyelipkan selembar jurnal harian Nevery di setiap akhir bab. Ini membuat pembaca mampu memahami apa sebenarnya yang ada dalam pikiran mereka masing-masing, dan juga menambah minat kita pada kisah ini, karena sering kali mereka memikirkan hal-hal yang berlawanan satu sama lain. Melalui jurnal Nevery, kita juga bisa mencoba memahami dengan lebih baik bagaimana sebenarnya kepribadian Nevery di balik penampilannya yang dingin dan kaku?

Di setiap awal bab juga terdapat gambar ilustrasi hitam putih para tokoh atau lokasi yang dimaksud, yang memudahkan pembaca menciptakan imajinasi dalam benak mereka saat para tokoh sedang berinteraksi satu sama lain, atau sedang berada di suatu tempat. Bahkan di akhir buku malah ada resep biskuit Benet yang terkenal itu. Beserta ilustrasi-ilustrasi lokasi dan para tokoh yang disertai keterangan singkat di sampingnya.
Juga terdapat halaman alfabet tulisan kuno Wellmet yang dapat digunakan pembaca untuk menerjemahkan pesan dalam aksara kuno Wellmet yang ditulis Nevery di akhir jurnalnya. Akan menjadi kesenangan tersendiri bagi pembaca saat menerjemahkan aksara-aksara Wellmet yang tampak bagaikan kode rahasia itu ke dalam bahasa kita.

Tapi yang menjadikan buku ini unik dan menarik adalah Conn sendiri. Karakteristik Conn begitu lugas, hidup dan spesial. Mengesampingkan latar belakang kriminalnya, Conn sebenarnya cuma anak laki-laki biasa berhati baik yang mendambakan sebuah tempat dan kehidupan yang lebih baik bagi dirinya. Ia bukanlah orang yang berhati tamak, ia mensyukuri dan menghargai apa yang dimilikinya.
Ia juga jujur dan apa adanya, tak pernah terlalu bangga akan kelebihan yang dimilikinya, juga tak pernah terlalu rendah diri akan latar belakangnya yang mengundang kerutan alis orang-orang yang mendengarnya. Dan tak pernah mengeluh atau menenggelamkan dirinya dalam kubangan rasa kasihan pada diri sendiri.

Pembaca mau tak mau akan bersimpati padanya saat ia berjuang keras untuk membuktikan dirinya pada Nevery dan pihak berwenang Wellmet. Pembaca juga akan kagum saat melihat Conn mampu berpikir jernih dalam situasi apa pun, tidak mencampur adukkan emosinya dalam penilaiannya.

Novel juga diakhiri dengan penutup yang lumayan memuaskan, yang membuat pembaca cukup penasaran dengan buku kedua dalam triloginya.

Book #2 : Lost

0 Response(s):

Post a Comment