Rating : ♥♥
Official Site : Ursula K. Le Guin
Di Atuan, hiduplah seorang gadis bernama Tenar, Pendeta Wanita Makam yang mendedikasikan hidupnya pada para dewa tua yang disebut Mereka Yang Tak Bernama.
Tenar dipercaya sebagai reinkarnasi dari seorang Pendeta Wanita Makam yang dilahirkan kembali pada hari dan jam yang sama dengan saat kematian menjemputnya dari badan lamanya.
Dipisahkan dari orangtuanya ketika ia berusia lima tahun, Tenar memulai hidup barunya di Situs Makam Atuan dengan nama baru, yaitu Arha.
Tenar dipercaya sebagai reinkarnasi dari seorang Pendeta Wanita Makam yang dilahirkan kembali pada hari dan jam yang sama dengan saat kematian menjemputnya dari badan lamanya.
Dipisahkan dari orangtuanya ketika ia berusia lima tahun, Tenar memulai hidup barunya di Situs Makam Atuan dengan nama baru, yaitu Arha.
Arha kemudian tumbuh besar di bawah bimbingan kedua Pendeta Wanita yang bertugas mengajarinya semua pengetahuan dan ketrampilan yang harus dimiliki seorang Pendeta Wanita Makam.
Setiap hari dalam hidupnya diisi dengan kegiatan serupa, sehingga tak heran lama-kelamaan Arha mulai merasa jenuh dengan hidupnya dan tak sabar menanti-nantikan saat ia memegang tampuk kekuasaan penuh terhadap para pembimbingnya, yaitu saat ia memasuki kedewasaannya di usia 14 tahun.
Setiap hari dalam hidupnya diisi dengan kegiatan serupa, sehingga tak heran lama-kelamaan Arha mulai merasa jenuh dengan hidupnya dan tak sabar menanti-nantikan saat ia memegang tampuk kekuasaan penuh terhadap para pembimbingnya, yaitu saat ia memasuki kedewasaannya di usia 14 tahun.
Satu tahun setelah pengangkatan resminya sebagai Pendeta Wanita Makam, Arha dibawa salah satu pembimbingnya untuk belajar mengenali dan menjelajahi wilayah kekuasaannya, sebuah labirin bagaikan kota yang besar dan gelap di bawah Situs. Labirin yang tak pernah dikunjungi manusia fana karena di situlah tempat Mereka Yang Tak Bernama berada. Sekaligus tempat Harta Agung disimpan.
Pintu masuk area bawah Situs sesungguhnya hanya diketahui Arha dan kedua pembimbingnya, dan hanya Arha yang diperbolehkan Mereka Yang Tak Bernama untuk berjalan di bawah Situs dan bahkan untuk itu pun Arha tidak diperbolehkan menggunakan penerangan saat menjelajahi labirin dan terowongan-terowongannya. Hanya dengan sentuhan dan ingatan yang dilatih sekian lamanyalah yang membuat Arha mulai sanggup memetakan bawah Situs sedikit demi sedikit tanpa tersesat dalam kegelapan.
Karena itu pulalah, betapa terkejutnya Arha saat ia melihat ada cahaya terang di terowongan yang gelap itu, dan ada orang asing yang sedang berada di tanah keramat Situs.
Orang asing itu adalah Ged yang sedang mencari Cincin Erreth-Akbe yang akan mengembalikan perdamaian di dunia, harta agung yang diyakini tersimpan dalam ruang harta di bawah Situs. Ged mencoba mencuri benda itu, namun kekuatan gelap Mereka Yang Tak Bernama yang melingkupi area itu membuatnya tak mampu melangkah lebih jauh lagi.
Orang asing itu adalah Ged yang sedang mencari Cincin Erreth-Akbe yang akan mengembalikan perdamaian di dunia, harta agung yang diyakini tersimpan dalam ruang harta di bawah Situs. Ged mencoba mencuri benda itu, namun kekuatan gelap Mereka Yang Tak Bernama yang melingkupi area itu membuatnya tak mampu melangkah lebih jauh lagi.
Dibesarkan di kuil yang terisolasi dari dunia luar, Arha sama sekali tidak punya pengetahuan apa pun tentang dunia luar. Karena itulah, kegembiraan dan rasa penasaran mulai menggantikan rasa kaget saat ia melihat Ged.
Pada dasarnya, setiap pencuri dan penyusup Situs akan dihukum mati. Namun Arha akan menyekap dan menginterogasinya terlebih dahulu sebelum diserahkan pada kedua pembimbingnya.
Pada dasarnya, setiap pencuri dan penyusup Situs akan dihukum mati. Namun Arha akan menyekap dan menginterogasinya terlebih dahulu sebelum diserahkan pada kedua pembimbingnya.
Tak butuh waktu lama bagi Arha untuk terpikat pada kisah-kisah dunia luar yang diceritakan Ged padanya. Semakin banyak yang ia pelajari, semakin bertanya-tanyalah ia akan keyakinan yang dipegangnya selama ini. Arha mulai dihadapkan pada dua pilihan, melayani dewanya seumur hidupnya atau menggapai kebebasan di dunia luar. Yang mana yang akan dipilih Arha pada akhirnya?
Sama seperti buku sebelumnya yang kaya dengan deskripsi yang detil, buku kedua juga dipenuhi penjelasan yang sangat terperinci dan sedikitnya adegan aksi. Separuh lebih isi buku ini difokuskan pada keseharian hidup dan rutinitas yang dijalani Arha, praktis membuatku harus berusaha keras melawan kebosanan yang melanda setiap kali aku membalik halaman demi halaman dengan harapan menemukan sesuatu yang cukup menarik. Namun setelah pembaca sampai di bagian kemunculan Ged, dijamin akan terus melaju hingga akhir cerita dalam waktu singkat.
Membaca buku ini diperlukan kesabaran lebih, dan kusarankan untuk tidak terlalu fokus atau mencoba memahami semua penjelasan yang rumit pada awal-awal bab, karena menurutku esensi dari kisah ini terletak pada adegan di mana kedua tokoh utama untuk pertama kalinya bertemu satu sama lain.
Well, aku sebenarnya cukup kecewa karena buku kedua ini tidak difokuskan pada Ged. Semoga buku ketiganya akan lebih baik.
Book #1 : A Wizard of Earthsea
Book #1 : A Wizard of Earthsea



The Earthsea Cycle #2 : The Tombs of Atuan
2 Stars
























0 Response(s):
Post a Comment