Rating : ♥♥♥
Official Site : Alyson Noël
Pada awalnya segala sesuatunya tampak sempurna bagi Ever Bloom. Tak hanya memperoleh sejumlah kekuatan baru sebagai seorang Immortal baru, hubungan cintanya dengan Damen Auguste juga semakin mesra.
Kini Ever mulai bisa mengontrol kemampuan psikisnya dan tidak membutuhkan bantuan tudung sweter dan iPod selama Damen berada di sisinya sepanjang waktu. Damen juga melatih Ever cara menggunakan kekuatan barunya dan mengajaknya mengunjungi Summerland, dimensi magis tempat segala hal itu mungkin.
Kini Ever mulai bisa mengontrol kemampuan psikisnya dan tidak membutuhkan bantuan tudung sweter dan iPod selama Damen berada di sisinya sepanjang waktu. Damen juga melatih Ever cara menggunakan kekuatan barunya dan mengajaknya mengunjungi Summerland, dimensi magis tempat segala hal itu mungkin.
Lalu, kedatangan Roman ke sekolah mereka mengubah segalanya. Sekilas pandang, cowok baru yang supel dan ramah itu tak tampak berbahaya, bahkan setelah Ever menyisir isi pikiran Roman dan membaca auranya, ia tak menemukan apa pun yang mencurigakan.
Namun entah untuk alasan apa, Ever merasa kalau Roman tidak seperti apa yang ditampilkannya, indra keenamnya menyuruhnya untuk menjauhi Roman sebisanya. Damen sendiri tak peduli dengan kehadiran Roman. Walaupun Roman dengan terang-terangan mendekati Ever, mengabaikan tanda-tanda ketidaksukaan yang ditujukan Ever padanya.
Namun entah untuk alasan apa, Ever merasa kalau Roman tidak seperti apa yang ditampilkannya, indra keenamnya menyuruhnya untuk menjauhi Roman sebisanya. Damen sendiri tak peduli dengan kehadiran Roman. Walaupun Roman dengan terang-terangan mendekati Ever, mengabaikan tanda-tanda ketidaksukaan yang ditujukan Ever padanya.
Mimpi buruk Ever dimulai saat ia menyadari kemampuan psikis Damen mulai melemah, sementara kemampuannya sendiri menguat. Bahkan Ever mulai bisa membaca pikiran dan melihat aura Damen. Sampai suatu hari, tiba-tiba saja Damen sudah tidak mengenalinya dan membencinya! Yang paling parah, Ever juga dijuluki penguntit oleh Damen yang kini berpacaran dengan Stacia, musuh abadi Ever.
Seakan semua itu belum cukup, kedua sahabat dekatnya dan seisi sekolah sepakat untuk mengabaikannya. Kecuali Roman yang masih setia mengganggunya dan melancarkan pendekatan padanya. Ever sangat yakin kalau Roman adalah dalang di balik semua kejadian ini, namun ia tidak bisa menemukan bukti apa pun yang bisa memberatkan tuduhannya sementara Damen semakin lama semakin jauh dari genggamannya.Lalu bagaimana caranya mengembalikan semuanya ke keadaan semula? Ever butuh jawaban dan mungkin saja jawabannya terletak di Summerland. Tapi bagaimana caranya mengunjungi Summerland? Damen hanya sempat mengajarinya sekali, sebelum pelajaran mereka akhirnya diinterupsi oleh Sabine, tante Ever.
Ever kemudian meminta bantuan Ava, temannya yang seorang peramal. Dengan kekuatan gabungan mereka, Ever dan Ava berhasil masuk ke dimensi magis Summerland. Karena kecerobohannya, alih-alih memperoleh jawaban cara menyembuhkan Damen, Ever malah menemukan rahasia masa lalu Damen dan gambaran masa depan Damen yang tengah sekarat di hadapan Roman. Kali ini Ever semakin yakin kalau Roman yang bertanggung jawab atas perubahan Damen. Dan ia harus menyembuhkan Damen sebelum semuanya terlambat.
Dalam kunjungan berikutnya ke Summerland, Ever berhasil menemukan cara kerja waktu. Dilema melanda Ever. Memutar kembali waktu untuk menyelamatkan keluarganya dari kecelakaan atau menyelamatkan Damen, yang mana yang akan dia pilih? Cinta superfisial Ever pada Damen mulai diuji…
Terus terang, aku masih sulit menyukai Ever. Terutama saat gadis ini merajuk pada Damen karena cemburu dengan wanita-wanita masa lalu Damen atau saat gadis ini dengan bodohnya mengambil keputusan yang salah di akhir cerita, memilih untuk memercayai musuhnya setelah dijahati sedemikian rupa. Atau saat gadis ini mencoba ikut campur masalah percintaan bibinya dengan guru sekolahnya. Come on, memangnya apa yang memalukan jika gurumu pacaran dengan bibimu? Sempat-sempatnya gadis ini mengurusi urusan orang lain di saat diri sendiri punya banyak masalah pribadi yang lebih penting untuk dipikirkan dan dibenahi?
Ya aku tahu, Ever masih remaja berusia 16 tahun, namun setelah apa yang dilaluinya dan yang sedang dialaminya saat ini, aku mengira kalau gadis ini bisa lebih sedikit dewasa dan mulai bersikap dewasa. Nyatanya, dia masih terus saja peduli pada hal-hal yang superfisial dan tak berarti.
Kurasa momen yang paling membuatku ingin mencekik gadis ini (jika ia nyata) adalah saat ia terus bertingkah manja dan merajuk pada Damen karena Damen sempat berhubungan dengan sejumlah wanita sebelum bertemu dengannya saat ini.
Kurasa momen yang paling membuatku ingin mencekik gadis ini (jika ia nyata) adalah saat ia terus bertingkah manja dan merajuk pada Damen karena Damen sempat berhubungan dengan sejumlah wanita sebelum bertemu dengannya saat ini.
Hellooo?? Damen sudah jatuh cinta padanya selama 400 tahun, selalu mencarinya dan menjalin cinta dengannya setiap kali Ever bereinkarnasi, kok masih bisa sih gadis ini meragukan cintanya? Wah, tak habis pikir entah apa yang ada di pikiran pengarang sampai-sampai dia tega membuat heroine-nya dibenci oleh pembacanya.
Sebenarnya saat ia mulai putus dengan Damen, Ever menjadi sosok heroine yang kuat dan tangguh menghadapi cobaan. Namun semakin mendekati akhir cerita, aku kembali kecewa dengannya. Tapi yah, kalau buat pembaca yang masih ingin seri ini berlanjut, tentunya pilihan Ever di akhir cerita tak sepenuhnya salah. Karena, bagaimana lagi caranya supaya ceritanya bisa berlanjut?
Aku pribadi berharap seri ini seharusnya tamat sampai nomor dua saja. Terlalu dipanjang-panjangkan. Lagian aku sebenarnya mulai muak melihat adegan mesra pasangan Immortal yang chemistry-nya begitu kering ini.
Aku pribadi berharap seri ini seharusnya tamat sampai nomor dua saja. Terlalu dipanjang-panjangkan. Lagian aku sebenarnya mulai muak melihat adegan mesra pasangan Immortal yang chemistry-nya begitu kering ini.
Pada awalnya, adegan mesra antara Damen dan Ever cukup membosankan dan mulai sangat mengganggu saat Ever terus-terusan memuji kesempurnaan fisik Damen yang tiada taranya.
Hingga buku kedua ini aku masih terus bertanya-tanya, apa yang disukai Ever dari Damen selain tampangnya yang bak Adonis? Dan apa yang disukai Damen dari pribadi Ever jika mengesampingkan fakta bahwa karena mereka adalah pasangan yang ditakdirkan?
Hingga buku kedua ini aku masih terus bertanya-tanya, apa yang disukai Ever dari Damen selain tampangnya yang bak Adonis? Dan apa yang disukai Damen dari pribadi Ever jika mengesampingkan fakta bahwa karena mereka adalah pasangan yang ditakdirkan?
Meskipun rasanya masih sulit untuk menyukai pasangan Immortal ini, aku cukup penasaran untuk mengetahui kelanjutan hubungan Damen dan Ever setelah Ever mengetahui masa lalu Damen yang kelam. Aku cukup puas karena di buku kedua ini akhirnya cerita pertemuan mereka dan sejarah masa lalu Damen mulai diungkap, seperti bagaimana awal mulanya ia menjadi Immortal.
Dalam buku selanjutnya, dikatakan kalau cinta superfisial Ever mulai benar-benar diuji saat Damen menanggalkan pesona-pesona luarnya hingga hanya esensi dirinya yang sejati yang tersisa. Ditambah dengan kehadiran cowok lain, bisakah cinta Ever pada Damen bertahan? Penasaran juga nih, apakah Ever itu benar-benar mencintai Damen atau tidak?
Kabar baik bagi para fans seri Immortals, buku ketiganya yang berjudul Shadowland sudah diterbitkan oleh penerbit Mizan dan sudah bisa diperoleh di toko buku online.
Btw, aku merasa selera pengarang dalam memilih nama para tokoh ceritanya cukup menggelikan. Dari Ever Bloom, Haven, Honor, Miles, dan yang terbaru : Roman! Untung saja cowok baru yang akan muncul di buku ketiga nanti namanya Jude. :p
Note : Belum punya dan tertarik untuk memiliki buku ini? Kamu bisa membeli buku bekasku ini dengan harga murah di sini, selama persediaan masih ada. :)
Book #1 : Evermore
Note : Belum punya dan tertarik untuk memiliki buku ini? Kamu bisa membeli buku bekasku ini dengan harga murah di sini, selama persediaan masih ada. :)
Book #1 : Evermore



Immortals #2 : Blue Moon

3 Stars
























Wakakak... itu kayaknya bukan cinta, tapi nafsu.
ReplyDelete