Vampire Academy #3 : Shadow Kiss

Vampire Academy #3 : Shadow Kiss - USA EditionBookmark and Share
Author : Richelle Mead

Rating : ♥♥♥♥♥

Official Site : Richelle Mead

Tiga minggu sudah berlalu sejak Rose Hathaway membunuh Strigoi pertamanya dan menjadi saksi dari kematian sahabatnya. Sekalipun begitu, Rose masih belum bisa melupakan insiden yang traumatis itu. Bahkan sepertinya ada bagian dalam dirinya yang telah berubah cukup banyak sejak saat itu.

Hatinya terbakar amarah dan cemburu melihat apa yang bisa dimiliki oleh Lissa dan Christian, namun takkan pernah dimiliki olehnya dan Dimitri.
Jika ditanya apa hadiah ulang tahun ke-18 yang diinginkannya, maka ia tidak menginginkan apa pun selain kebebasan untuk mencintai siapa pun yang diinginkannya. Ia dan Dimitri mungkin sudah mengakui cinta mereka satu sama lain, namun bukan berarti Dimitri akan bisa bersamanya selama mereka berdua masih berstatus calon pengawal Lissa di masa depan.
Karena itu, hubungan mereka kembali seperti sebelumnya, saat mereka berpura-pura tidak ada apa pun di antara mereka berdua dan bersikap profesional sepanjang waktu.

Masa pendidikan Rose di Akademi St. Vladimir juga akan segera berakhir, dan saat ini ia harus memfokuskan perhatiannya pada praktik lapangan yang akan dijalaninya selama enam minggu.
Dalam praktik lapangan itu, para Dhampir novis seperti Rose tidak perlu masuk kelas dan harus melindungi Moroi siang dan malam sementara para guru akan menguji keahlian bertarung dan teknik pengawalan mereka.

Vampire Academy #3 : Shadow Kiss - Indonesia EditionRose sangat kaget saat menyadari dirinya tak dipasangkan dengan Lissa dalam praktik lapangan itu. Dan tebak siapa Moroi yang menjadi pasangannya? Christian. Rose tidak membencinya, namun ia juga tidak bisa dibilang menyukainya.
Walaupun kecewa dengan keputusan itu, Rose lega karena ia setidaknya masih bisa sering bertemu Lissa saat Christian melakukan aktivitasnya bersama dengan Lissa.

Sementara itu, Lissa akhirnya memutuskan untuk berhenti mengkonsumsi obatnya dan mulai bereksperimen dengan elemen sihirnya, dibantu oleh Adrian. Konsekuensi dari interaksi antara Lissa dan Adrian dalam sesi latihan sihir mereka telah membuat Christian terbakar cemburu. Padahal Adrian sesungguhnya lebih tertarik pada Rose.

Di lain pihak, Rose mulai kuatir kalau kewarasannya perlu dipertanyakan. Ia kerap melihat hantu Mason di dekatnya. Dan tampaknya hanya Rose yang bisa melihatnya. Akibatnya cukup fatal bagi praktik lapangannya.
Begitu terkejutnya ia dengan kemunculan hantu Mason di hadapannya, Rose terpaku dan sama sekali tidak melawan saat diserang oleh para gurunya, dan itu sama sekali tidak bagus dampaknya pada nilai praktik lapangannya dan citra dirinya. Semua orang mempertanyakan apa yang sedang dipikirkan Rose sampai-sampai bisa bengong saat tes praktik lapangan itu. Rose tidak sanggup mengatakan alasan sebenarnya, jika ia tidak ingin dikira gila dan tidak kompeten. Ia juga tidak bisa menceritakannya pada Lissa dan Dimitri.

Pada saat-saat lain, Rose juga bertanya-tanya. Apakah hantu Mason itu benar-benar nyata atau cuma khayalannya karena jiwanya masih trauma dengan kematian Mason? Jika hantu Mason nyata, apa sebenarnya tujuan Mason mengunjunginya? Apakah Mason marah padanya dan ingin membalas dendam? Tapi Mason tak pernah berusaha menyakitinya, dan kelihatannya Mason menginginkan sesuatu darinya, tapi apa?

Adrian beranggapan kalau ketidakmampuan Rose untuk mengontrol emosi dan amarahnya kemungkinan dikarenakan emosi gelap yang dimiliki oleh Lissa telah disalurkan padanya lewat ikatan batin mereka. Rose sangat syok saat mengetahui bahwa teori itu ternyata benar. Kemampuannya melihat hantu, amarah yang tak terkendali, semuanya itu membuatnya menyadari konsekuensi mengerikan yang akan menimpanya jika ia terus berada di sisi Lissa.

Rose adalah pengawal Lissa dan ia sudah bersumpah untuk melindunginya apa pun yang terjadi. Semua keinginan dan kebutuhan Lissa harus didahulukan dan diutamakan. Dan karena Rose menyayangi Lissa bagaikan saudarinya sendiri, ia tak pernah mempertanyakan seberapa jauh pengorbanan yang harus diberikannya untuk melindungi Lissa.
Sekarang, saat mengetahui makna sesungguhnya dari Dicium-Bayangan selain sekedar ikatan batin dengan Lissa, Rose mulai bertanya-tanya apakah sebenarnya tujuan hidup yang diinginkannya selama ini.
Ia selama ini yakin jika ia tidak menjadi pengawal, maka pilihan lain yang tersisa hanyalah menjadi pelacur darah, dan karenanya menjadi pengawal dari teman baiknya adalah pilihan yang terbaik. Tapi kini ia mulai tidak yakin apakah pilihan itu benar?

Belum juga selesai satu masalahnya, kini ia dihadapkan dengan masalah lain. Banyak Moroi yang menjadi korban pemukulan akhir-akhir ini, namun para Moroi yang terluka memilih diam dan tidak mau menceritakan apa yang sedang terjadi. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Vampire Academy #3 : Shadow Kiss - USA Edition Vampire Academy #3 : Shadow Kiss - UK Edition Vampire Academy #3 : Shadow Kiss - UK Edition

Vampire Academy adalah salah satu kisah fantasi supernatural terbaik yang pernah kubaca. Seri ini telah melampaui ekspektasiku. Plot cerita dalam buku ketiganya ini sangat fantastis, buku terbaik dalam seri Vampire Academy, sejauh ini.

Book #1 : Vampire Academy
Book #2 : Frostbite

0 Response(s):

Post a Comment